Seseorang bertanya pada kami, “Apakah yang membuat hati manusia berbahagia dan sudahkah kalian merasakan bahagia hari ini?”
Ehmm.. dalam hatiku yang sangat sederhana, aku menjawab, “Senyum” tapi aku takut salah menjawab (ugh! itulah kelemahanku) maka aku akan diam saja sambil menerka-nerka dalam hati.
Teman, bagi kita mungkin kebahagiaan itu sangat relatif. Ada yang sangat bahagia bila dapat sering bersama-sama dengan orang yang dicintai, mungkin juga bahagia bertemu dengan orang yang dirindukan, atau bahagia bila mendapatkan rizki yang lumayan banyak dari Allah yang dengan itu kita bisa membeli apa yang selama ini kita inginkan. Padahal rizki itu tidak hanya berbentuk uang. padahal Setiap hari kita diberikan rizki dalam berbagai bentuk, hanya saja format rizki dalam paradigma kita adalah materi.
Dan tahukah teman, ketika yang lain puas menebak dan tak seorangpun bisa menjawabnya akhirnya kami diberikan sebuah kata, “MEANINGFUL”
Oh! Mendengar kata itu saja, saya merasa tertikam. Mungkin juga teman yang lain. Sudahkah saya melakukan sesuatu hari ini? Sudahkah saya membereskan tempat tidur saudara saya pagi tadi? Sudahkah saya menyiapkan sarapan atau sekedar memanaskan air untuk minum teh favorit adik kos saya. Rasanya saya asik mencari kebahagiaan (lanjutkan dengan kata “semu”) di luar sana, kebahagian versi saya. Padahal jujur! saya sangat suka bila bermakna bagi orang lain. Tapi anehnya hanya untuk orang lain di luar sana. Untuk saudara-saudara saya, kadang enggan untuk sekedar membantu menjemur pakaian yang telah dicuci. Alasannya, saya ingin dibantu pula ketika saya minta tolong. Pamrih yang sangat tersembunyi. Astagfirullah.
Meaningful. Sebuah kata yang akhirnya menjadi kata favorit saya sejak itu. Hidup bermakna bagi orang lain yang berinteraksi dengan kita. Hidup bermakna dengan melakukan hal-hal kecil yang kita anggap sepele. Mungkin kita sering berfikir hiper tentang kata meaningful. Seolah meaningful hanyalah untuk kerja-kerja besar. Seolah ketika kita menyumbangkan uang ke panti asuhan, itulah meaningful. Ah, lagi-lagi materi. Sungguh terlalu.

Ayah, aku ingin bangkit lagi
cuma…
berikan aku kepercayaan setinggi bintang

Ayah, aku ingin bangkit lagi
hanya…
berikan semangat seperti bara menyala

Ayah, aku ingin bangkit lagi
tapi…
aku ingin berada di dekatmu dan ibu

Sungguh, aku telah bangkit
dan berlari seakan bisa mengejar matahari yang lewat demikian cepat,
di kepalaku dengat terik,
lalu jatuh di barat

Ayah
Sungguh anakmu sebenarnya telah bangkit

Padang, 16 Januari 2012

ABACUS

Apakabar, teman?
sambil berhitung, melintas kenangan kanak-kanakku
mungkin tidak seperti riangnya anak-anak
di playgroup tua kampung kita
sebab lidahku tak pernah mengecap nyanyiannya

seperti nyanyian sepi pucuk pohon atas bebukitan
dan halimun dingin yang selimuti puncaknya
terngiang lantunan Qur’ani dari jiwa nan Rabbani
tunduk kaki dan tangan memenjara kenakalan
diam hingga jadi kebiasaan
Magrib, teman! kita korbankan permainan

“Untuk apa puisi-puisi itu engkau tulis kembali?”
tanyamu suatu hari
“aku ingin jadi penyair”
ah, mereka yang mengembara di lembah-lembah?
tidak, ini hanya potongan masa depan
aku hendak jadi penulis

Tiba-tiba ombak kesadaran memhempas lamunanku tumpah ruah
malam ini aku penyair
siangnya aku hanyalah si penggemar petualangan
dengan gemetar menjalani masa
yang hanya tinggal sekerat kecil

bukan syair ataupun prosa kehidupan orang-orang
karena smua telah dirampas pergi
ini sebuah abacus
dengan jemari kaku menggesernya

(mengenang yang telah pergi)
Jum’at, 23 Desember 2011

Child for a day
Cat Stevens

I was a child
Who ran full of laughter
I was a child who lived for today
My eyes full of sunshine
My heart full of smiles
I was a child for a day
We were the children
Who sang in the morning
We were the children
Who laughed at the sun
Who listened to those who spoke with their wisdom
We are the ones we would say, but

We’re getting older as time goes by
A little older with everyday
We were the children of yesterday

We are the men who worry of nothing
We are the men who fight without aim
We listen to no one, yet speak of our wisdom
We are the pawns in the game

We’re getting older as time goes by
A little older with everyday
We were the children of yesterday

I was a child
Who ran full of laughter
I was a child who lived for today
My eyes full of sunshine
My heart full of smiles
I was a child for a day

We’re getting older as time goes by
A little older with everyday
We were the children of yesterday

Mengeja

sudah berapa lama kita mengeja?
tabiat sesuatu yang baru dan belum pernah bersua
ejalah sebelum kita lupa
sebelum susut satu huruf dari kepala

mengeja
sampai dini hari
mengeja
sampai terbit mentari
mengeja
sampai pagi pergi
sampai habis seluruh hari-hari
di rambut yang semakin lebat
hitam semakin putih
dan putih yang semakin hitam

mari mengeja
masa depan yang belum ada
F.U.T.U.R.E

Padang, 18 September 2011

Next Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.