selamat tinggal imaji

meski rumahku tak lagi dibangun timbunan sajak

yang ada dialog sederhana dan diskusi biasa

bukan sajak, bukan cerita, bukan pula bahasa indah

 

meski semuanya hilang, meski semua sirna

rumahku masih ada cahaya

syurga yang tercipta, sesuatu yang bersahaja

 

meski kadang lengang, kadang diam

kadang tak sinkron, menjengkelkan

rumahku harus selalu bercahaya

jkt, 3 April 2016

Aku ingin seorang teman

Aku ingin seorang teman
yang senyumnya bertahan
dalam gemuruh kota dan sunyi desa
Aku ingin seorang teman
yang tidak putus-asa di musim kemarau
dan tidak sombong di musim hujan

Aku ingin seorang teman
yang nafasnya tetap teratur
dalam keributan dan keheningan
Aku ingin seorang teman
yang bisa memisahkan urusan pribadi
dan kepentingan banyak orang.

Kalau boleh aku ingin memilih teman
yang tetap berpikir jernih
di dalam keruhnya zaman
yang sanggup mendengar
pujian maupun ejekan
yang tetap punya harapan
pada saat orang lain ketakutan
yang tetap bersih dan sehat
pada saat semua jadi jorok dan sakit-sakitan

Tetapi aku tahu semua teman bisa pergi
untuk sementara atau selamanya
Seorang teman bisa berkelit,
bisa jadi pikun atau pura-pura lupa
Sementara aku sendiri juga bisa mati
sebelum rumah persahabatan
selesai kubangun untuknya.

Karena itu aku ingin seorang teman
yang bersedia tinggal di hati-kecilku
dan memberiku ruang di dalam hatinya.