Sang Zahid-ku

6:44:19 PM

Friday, October 03, 2008

Kulihat harta dunia di tangan seseorang, lahirlah gundah semakin dia berlipat bilangan. Hinalah siapa yang memandang dengan keagungan, agunglah siapa yang memandang dengan kehinaan.

Bait-bait nasyid ini begitu saja terlintas di benakku ketika membaca penjelasan tentang hadits ke 40 dari hadits arbain yang disusun oleh Imam Nawawi ini. Sejenak kembali terkenang masa kecilku yang sekarang baru kurasakan begitu zuhud. Meski keinginan kanak-kanak yang sering dipenuhi tuntutan-tuntutan dan permintaan, namun tetaplah ayah mengajarkan kami, anak-anaknya, untuk hidup zuhud. Beliau tak pernah dengan begitu rumitnya mengungkapkan dalil-dalil dan argumentasi yang cerdas tentang zuhud, kendati kami tahu ayah adalah orang cerdas paling pertama yang kukenal. Beliau menjadikan diri beliau sosok yang digugu dan ditiru hingga sekarang oleh anak-anak beliau. Aku tidak tahu apakah semua anak beliau berfikir sama denganku. Namun aku tahu, begitu banyak gurat-gurat di tubuh beliau adalah guratan perjalanan hidup seorang manusia bijak yang sangat aku hormati dan aku kagumi. Meski hanya diam-diam. Namun sifat keras dan kesederhanan beliau mampu menembus akal pikiran ini, mengapa meski sederhana dalam hidup.

Dulu kami begitu iri melihat teman-teman yang berlebaran dengan baju dan sepatu baru. Dulu kami begitu iri melihat teman yang diberi uang saku lebih banyak oleh orang tuanya. Dulu kami tak pernah punya televisi. Jangankan televisi, pernah dua kali membeli radio, ketika rusak tidak pernah lagi dibeli. Jangankan televisi, listrik pun tidak pernah ada di rumah kami. Belajar di malam hari hanya ada alternatif yang paling baik untuk penerangan yang sekarang mungkin hanya dipakai oleh pedagang kaki lima di jalan-jalan ketika malam hari. Kami hanya memakai lampu petromaks yang hanya jika ayah di rumah saja bisa dipergunakan karena hanya beliau yang bisa menyalakan. Pun jika beliau sedang sibuk-sibuknya beraktivitas di luar semisal ketika beliau jadi kades, kami hanya akan menyalakan lampu minyak sampai beliau pulang. Kami pun sangat ingin punya lampu listrik yang tidak susah-susah untuk dinyalakan. Kami juga pernah sangat memimpikan punya televisi untuk hiburan.

Itu dulu. Meski tuntutan itu hanya datang dari jiwa kanak-kanak kami yang tidak pernah melontarkannya lewat obrolan-obrolan ringan kami dengan beliau. Dari sana bermula segala kezuhudan yang beliau ajarkan. Sebab dunia hanyalah tempat singgah, itulah kesimpulan yang kuambil dari ajaran zuhud ini. Dari sanalah akhirnya aku tak pernah banyak menuntut meski kadang harus menuntut, tapi tuntutan yang seharusnya itu telah tenggelam dalam lautan pemahaman akan kesederhanaan. Segalanya bermula dari keteladanan

Zuhud. Istilah ini baru kukenal ketika menginjak usia sekolah menengah pertama. Ada dua kemungkinan saat orang-orang berlabuh di dunia yang ramai ini. Ketika melihat yang indah dan mewah timbullah keinginan dan nafsu untuk memiliki dan akan diupayakan seluruh cara dan kekuatan untuk memilikinya. Tapi orang zuhudlah yang mampu meredam segala keinginan itu. Sebab itu bukanlah kebutuhan, tapi keinginan yang bermuara dari nafsu dan berpuncak pada nafsu. Maka orang zuhud telah lulus dalam ujian Allah itu. Bila segala yang indah dan mewah itu rizki, maka sang zahid meninggalkannya, bahkan memberikannya kepada fakir dan miskin. Betapa mulianya sang zahid, sebab baginya dunia hanya terminal, bukan bekal harta yang mesti diperbanyak, maka sang zahid pun menjadi bertambah mulia dengan kesederhanaannya.

Be continued….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s