Mencari Kearifan

Kurasakan tajam menusuk jasad. Tidak ada kata yang terlisankan selain di hati ini menggaung seluruh kata-kata itu. Bermain di relung-relung jiwaku. Hendak kulisankan, hendak kulisankan pada yang kutuju. Namun tak berkehendak nurani ini. Diri ini terkungkung oleh hati terasa beku dan hanya aku yang mengatakan kaku.

Bila fitrah itu mencoba mengajakku untuk memandang sekali lagi. Sekali saja, untuk kuucapkan selamat tinggal hidup penuh senyum. Bila tidak mengalir di pipi, terasa basah jiwa ini. Lahir batinku menggigil. Jasadku gemetaran, hatiku bergemuruh rubuh. Saat butir-butir air berubah jadi sungai, aku hanya usia yang papa. Gelandangan akal. Pemulung cinta yang kelaparan.

Jenguklah hidupku lewat jendela masa. Saat derit-derit daunnya membangunkan semut yang bersembunyi di sela-sela yang tidak pernah disentuh. Pandangilah kurusnya jasad yang digerogoti semua jeritan batin. Tidak layak kusebut derita sebab aku punya Tuhan yang menggelapkan dan menerangkan dunia.

Tempat aku bersandar hanya….

Udara yang berdiri sepi di rerimbunan kabut.

Saat mentari mulai menggelitik pandanganku di balik bulu-bulu mata. Aku kehilangan makna dalam usia. Beberapa hari hanya fakir yang memulung kata, tapi tidak sempat kugenggam ada yang merebutnya dariku. Jatuh dan bergulingan seluruhnya. Tidak sempat kukumpulkan aku telah dipanggil menghadap. Lalu ditanyakan padaku, “Apa yang kau cari wahai insan pencari kearifan?”

Barangkali hidupku akan menjadi beku, bila tidak cepat mencari peleburan selanjutnya.

Jiwaku patah, berderak-derak saat mencoba berlari di belukar kata manusia. Sedang aku masih hamba yang hina. Meski kemuliaan adalah inti hidup yang kutuju. Bila sampai di peleburan terakhir, jangan lagi tanyakan padaku. Katakan padanya, tentang hati yang luka tak berbalut sementara saja. Inginku adalah ada. Aku ingin ada. Di antara semi musim yang menggugah mata. Tetap menggelitik pandanganku ke arahnya. Saat gugurnya daun-daun dari ranting, menguning jatuh tidak ada penahan kecuali sentuhan udara. Lalu berciuman dengan tanah yang menanti. Kesadaranku hampir muncul saat dari balik pintu dikatakan padaku, “masuklah wahai insan pencari kearifan”.

Apakah aku telah tergoda dengan kearifan kata. Lakuku tidak, aku hanya terjebak kearifan kata?

Bila musim telah bertolak kembali ke singgasan ketawadhuan. Dibawakannya semangkuk hidangan pembuka pagi, mentari hangat hanya pada sebelum dhuha. Tidak terasa condongnya ke barat sebentar lagi. Meski pun aku hanya ada dalam diam, tapi kemelut jiwa mencampakkan ketenangan yang sementara itu. Apakah aku sedang membuat sketsa hidup? Tak terlihat dari jauh hanya kekosongan cahaya. Wajah pias memaknai kekurangan diri. Tidak hampa, laku pun begitu buruk terasa. Kelam hari menandai malam hanyutkan kenangan tentang panasnya dunia. Sekali melangkah, inginku sore itu adalah kepunyaanku bersama senyum manis yang tersungging di belahan detik. Canda halus yang tersampir menyelempang di bahu menit. Aku terpaku kelu. Jiwaku kembali beku, hampir meretak kalaulah tidak segera melunak. Namun aku hanyalah anak. Anak zaman yang kehilangan makna usia.

Bawakan aku sapu tangan.

Biarkan aku menangis di keheningan hari. Tidak akan kuratapi lagi nasib ini, sebab bukankah janjiku hanya satu padanya. Namun izinkan kain segi empat itu basah oleh air mata. Meski kecengenganku ini beralas tadahan tangan. Dari hari-hari yang memedihkan lambungku. Dan sakit yang mulai hadir semenjak kekosongan cahaya telah menyelimuti mimpi-mimpi yang tercipta.

Kukembalikan ini. Semoga hanya doa yang menguatkan diri. Walaupun aku tidak tahu siapa yang akan merelakan kata-katanya meluap jatuh ke hidupku. Adanya doa untuk diri sendiri. Lebih baik doa untuk kemaslahatan diri. Jangan mengharap doa dari diri-diri yang lain. Bisikan itu terasa semakin kuat. Egoiskah aku meminta? Seuntai doa meskipun hanya sisa, yang lupa teringatkan lagi.

Aku hanya diri. Aku ada di ruangan tak bertepi, tak bersudut kecuali ujung penglihatan yang mulai berhijabkan derasnya air mata. Adaku hanyalah sendiri. Dan mungkin akan memilih sendiri meski tak kuasa kumohonkan padaNya. Berikan aku pengganti teman. Dari selembar kertas dan sepotong pensil. Dari daun-daun gugur. Dari sketsa yang kulukis di kaca usiaku. Dari mimpi-mimpi yang tercipta. Biarkan bayangan itu menghilang, akan kurelakan saat ini. Kubangun kata-kata untuk membangun kembali hidupku meski tak tertata dari lisan yang terjaga.

11:08:55 PM

Saturday, October 18, 2008

Jiwa yang patah sang pencari kearifan.

Thanks to:

Jiwa Baru yang ‘tersengat’

Sang niat adalah kita yang ada di sini

Akar Yang Kuat Dan Terus Membangun Kata.

Kita adalah sang pencari kearifan. Insya Allah.

Gadis pecinta hujan

Puisi terus terangkai dari atas langit kehidupan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s