Kemenangan di Bumi Palestina

Sesungguhnya kemenangan itu tidak mutlak di Syawal ini. Kita menang hanya dalam soal boleh tidaknya makan di siang hari lagi. Kita menang hanya atas persoalan semua yang tidak boleh di bulan Ramadhan. Boleh jadi kemenangan yang kita rasakan itu semu. Kenapa tidak? Di saat kemenangan seharusnya kita mulai perlahan-lahan melunturkan semua kejelekan-kejelekan kita. Kita mulai perlahan mengukur waktu perjalanan kita sampai ujung hidup. Kita mulai perlahan menerobos pandangan kita ke jarak yang tak pernah kita tengok. Melempar perhatian kita nun jauh di belahan bumi tempat saudara-saudara kita sesama muslim berada.

Sesungguhnya kemenangan itu tidak mutlak di bulan Syawal. Karena boleh jadi kita ternyata sudah kalah. Susah payah kita menahan dan mendidikkan diri dan nafsu kita sebulan lamanya, namun kita hanya mendapat lapar, haus dan kepenatan belaka. Bilamana datang syawal kita menjadi lupa dengan segala ajaran Ramadhan. Seringnya kita bermegah-megahan dan berlebih-lebihan. Inilah sesungguhnya yang membuat kita kalah. Kita malah tertipu dengan perasaan bahwa kita sedang meraih kemenangan.

Kembalilah menengok catatan sejarah yang terurai panjang bersama darah dan airmata. Bahkan sampai hari ini tidak bisa kita pungkiri bahwa perjuangan itu masih ada. Jangan tergoda dengan gelar pemenang bila kita belum sempat merenung betapa memprihatinkannya Syawal saudara-saudara kita di Palestina, negeri penuh berkah yang Allah jadikan sebagai tempat turunnya risalah, tempat berhimpunnya kebudayaan dan sebagai tempat hijrah para nabi-Nya. Di dalamnya terdapat kiblat pertama dan tempat diisra’kannya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, di dalamnya pula Dajjal akan binasa melalui tangan al-Masih ‘alaihi salam dan dibinasakannya Ya’juj dan Ma’juj. Serta di dalamnya pula, bebatuan dan pepohonan akan berkata, “Wahai muslim! Wahai hamba Allah! Ini ada Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuhlah dia!”, maka Yahudipun akan binasa melalui tangan hamba-hamba Allah yang shalih di bumi Palestina.

kita menunggu kemenangan-kemenangan selanjutnya di tanah yang diwakafkan oleh Khalifah Umar bin Kattab untuk Umat Islam ini. Kegemilangan yang benar-benar memancarkan cahaya Islam ke seluruh penjuru bumi. Bukan kemenangan terlepas dari kewajiban berpuasa di tahun ini. Itu hanyalah sebagian kecil jihad kita melawan nafsu. Bukankah Allah hanya menjanjikan kemenangan-kemenangan bagi umat yang berjuang, bukan umat yang statis, diam, bermalas-malasan, atau seperti bangsa Yahudi di masa Nabi Musa yang lebih suka menunggu saja.

Dunia menunggu umat Islam yang bersatu padu meraih kemenangan. meskipun jarak geografis dan batas teritori menjadi hal yang tak bisa dihapus namun kekuatan doa adalah senjata utama. Di bulan Ramadhan, di bulan Syawal, di bulan-bulan lainnya, ketika berbuka puasa, ketika selesai shalat, mohonkanlah kemenangan untuk umat Islam di mana saja mereka berada kepada Allah. Di Irak, di Turki, di Filipina, di Poso, di Ambon, di Afganistan, di Palestina. Jangan pernah memutuskan doa untuk mereka. Karena sesungguhnya itulah kekuatan bagi mereka. Juga bantuan-bantuan materil dari kita sangat dibutuhkan sebagai bentuk persaudaran yang paling hakiki di bumi ini.

Wallahu’alam bishshawab.

Sangpejalan2006, October 06, 2008

<dimuat di buletin Al Quds_FSLDK Sumbar edisi ke-2>

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s