Menulis dan idealita

Sep 25, 2008 7:47 am

Menulis. Kadang dalam hatiku tersimpan rasa takut untuk menulis. Mengapa?

Sebuah ketakutan akan ketidakmampuan menyuarakan kebutuhan masyarakat pembaca. Itu ketakutan pertama

Yang kedua adalah ketakutan akan perbedaan dengan harapan-harapan pembaca. Pembaca sering menempatkan diri sebagai orang yang lebih cerdas dan pintar dari penulis. Tidak perlu dikomentari, karena penulis-penulis pun sering seperti itu.

Akhirnya. Menulisku terlalu individu. Menulisku penuh perasaan individu. Bagitu cemas ketika belum mampu menciptakan sinkronisasi antara realita dengan idealita. Tak mampu menulis kenyataan dipandang dari sudut sebuah keharusan. Sedikit banyaknya selalu ada sisi individu yang ingin dikedepankan. Na’udzubillah. Meski tak tersurat namun pembaca yang mengenal akan mudah membaca yang tersirat

Menulis. Seorang saudara yang paling dan sangat dekat, pernah mengatakan bahwa ketakutannya utnuk menulis juga tidak jauh beda dengan hal-hall yang diutarakan di atas. Baginya menulis itu menjadi sebuah beban. Sebab idealita itu jarang diimplementasikan. Menulis itu dakwah, tapi kita akan mengatakan apa yang tidak kita lakukan. Lagi-lagi sebuah beban menjadi tumpukan atas. Taladan pembaca bukan saja tulisan yang bermuatan dakwah, namun keseringan pembaca akan melihat sisi penulisnya itu sendiri. Lagi-lagi kita bertaruh dengan sebuah keharusan. Pembaca akhirnya antipati bila ditemukan seorang ustadz yang bukunya bertebaran dan  sangat diidolakan ternyata berpoligami. Padahal bukanlah sesuatu yang haram. Namun itulah rumitnya. Pola pikir yang salah di kalangan pembaca. Apalagi sebuah kecacatan moral dan sikap serta penulis yang tak mampu memenuhi tuntutan keidealan seperti tulisannya, namanya akan menjadi cacat di kalangan pembaca.

Namun, pembaca selalu ingin penulis adalah idealita itu sendiri. Dan selalu menjadi beban bagi seorang penulis yang menumpukan diri pada hal yang bersifat idealitas.

Akhirnya..bukan sebuah keputusan yang baik bila bertolak dari fenomena ini, penulis/calon penulis berhenti menulis. Sebab semua manusia selalu ingin menuju titik idealitas meski yang ideal itu hanyalah seorang manusia mulia yang Allah turunkah untuk menyempurnakan dan memberi teladan.

Lihatlah apa yang disampaikan seseorang, jangan lihat dari sisi penyampainya.// Ali Bin Abi Thalib

Wallahu’alam Bishshawab

Sang Pejalan

Kampus fk_25 ramadhan 1429/25 september 2008

Advertisements

4 thoughts on “Menulis dan idealita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s