Ramadhanku, Ramadhan di Palestina

Sementara urang Minang masih tetap teguh dengan tradisi balimau sebelum bulan Ramadhan tiba, bagaimana dengan Muslimin di Palestina sana menyambut Ramadhan? Apakah mereka juga punya tradisi sumbang seperti kita? Jawabannya mungkin “never!!!”
Seperti apa fenomena Ramadhan di tanah suci telah diwaqafkan oleh Khalifah Umar bin Khattab untuk umat Islam ini? Ada banyak deretan panjang peristiwa sebagai bentuk perjuangan saudara-saudara kita di sana. Berbagai kebijakan yang terus saja menzalimi diberlakukan oleh Israel. Tentu saja kebijakan-kebijakan itu tidak pernah menguntungkan muslim Palestina.
Tahun 2004, Penambahan Pendirian Checkpoint
Di saat suasana konflik kian memuncak khususnya di Tepi Barat dan jalur Gaza, Israel menambah pendirikan ratusan checkpoint di berbagai tempat dan sudut. Akibatnya, warga Palestina sangat sering terganggu. Misalnya terlambat datang ke tempat kerja, atau batal memenuhi undangan keluarga dan janji pertemuan dengan teman-teman mereka.
Biasanya, 5 menit sebelum azan magrib berkumandang, seluruh anggota keluarga telah berkumpul mengitari meja hidangan. Namun sejak dua tahun lalu, setiap keluarga sudah memaklumi jika salah seorang anggota familinya terlambat buka bersama.
Di Qalandiya, pemeriksaan kerap menyebabkan antrian panjang kendaraan di chechpoint. Taksi tak diijinkan lagi lewat menuju Ramallah, dan para penumpangnya dipaksa turun jalan kaki. Kalaupun seseorang memaksa menaiki kendaraan pribadi melewati checkpoint, antrian akan lebih lama ketimbang jalan kaki. Bahkan banyak yang membatalkan puasa di checkpoint hanya dengan sebutir biji kurma. Banyak yang tidak bisa lagi menikmati berbuka di rumah mereka lantaran adanya checkpoint ini. Yang dikhawatirkan ketika waktu shalat Maghrib menjadi lebih singkat dari yang biasanya karena harus menjalani pemeriksaan yang sangat lama.
Kerugian yang diderita warga Palestina akibat pendirian checkpoint sebetulnya lebih besar lagi. Di sinilah banyak warga tak berdosa tewas ditembaki tentara Israel, lantaran dikira akan menabrakkan mobil bermuatan bahan peledak. Padahal, mereka yang menjadi korban adalah warga yang tergesa-gesa, misalnya membawa isteri yang akan melahirkan, atau keluarga yang sakit, ke rumah sakit. Akibat keberadaan checkpoint pula, banyak warga yang terhalang mengunjungi saudaranya di wilayah lain, karena takut. Kalau pun terpaksa, mereka memilih berputar ke arah lain yang jaraknya lebih jauh, guna menghindari pemeriksaan.
Ramadhan, biasanya juga menggiatkan warga Palestina berbondong-bondong berjamaah di masjid al-Aqsha, di jantung kota tua Jerussalem. Maklumlah, al-Aqsha adalah masjid suci ketiga umat Islam setelah masjid al-Haram dan an-Nabawi. Dan lebih lagi pada malam-malam sepuluh hari terakhir Ramadhan, jamaah kian berjubel, berlomba-lomba meraih lailat al-qadar.
Namun setelah Israel meningkatkan pengawasan dan jumlah tentaranya, menurut Direktur Masjid al-Aqsha, Syekh Muhammad Hussein, jamaah pada bulan Ramadhan tak lebih dari 20 ribu hingga 30 ribu saja. Menjangkau Al-Aqsha bagi mereka menjadi sebuah mimpi.
Tahun 2006, Ramadhan di Tengah Embargo Ekonomi
Rakyat Palestina menjalani bulan suci Ramadhan tahun ini, lagi-lagi dalam situasi yang memprihatinkan. Sebagian besar dari mereka masih mengandalkan bantuan makanan dari PBB, karena blokade ekonomi dan tekanan penjajah Israel yang terus menerus.
Tidak ada lagi daging di tengah meja makan. Untuk sembako saja mereka harus mengantri pemberian jatah makanan dari badan bantuan PBB untuk Palestina-UNWRA. Selama enam bulan belakangan, Jalur Gaza mengalami krisis pangan, krisis terburuk selama 13 tahun terakhir, akibat embargo ekonomi yang dilakukan AS serta sekutunya pada pemerintahan Hamas.
Akibatnya, umat Islam tak lagi bisa menjaga tradisi saling mengunjungi di bulan Ramadhan dan memberikan kue, hadiah, serta daging pada kerabat dan keluarga dekat mereka. Puluhan pegawai negeri tak lagi menerima gaji penuh sejak bulan Februari.
Akibat embargo sejak bulan Januari ini, tidak adalagi es krim dan berbagai makanan lezat untuk anak-anak ketika berbuka, atau buah kurma sebagai makanan khas kala Ramadhan. Sejumlah kemewahan juga hanya akan menjadi kenangan masa lalu
Yang membedakan bulan ini dengan bulan-bulan yang lain adalah hidangan-hidangan buka puasa bersama yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga sosial bagi orang-orang yang berpuasa. Hidangan itu tersaji baik di masjid-masjid maupun di aula-aula umum. Juga ada pembagian makanan ke rumah-rumah para shaimin, orang-orang fakir, dan kelompok lain yang membutuhkan.
Lembaga Kemanusiaan untuk Palestina (LKP) yang dikelola oleh Muslim Austria telah melakukan penggalangan bantuan makanan bagi warga Palestina selama Ramadhan. Juga bingkisan Idul Fitri bagi anak-anak Palestina pada akhir Ramadhan.
Meski dilatari kondisi ekonomi yang memprihatinkan akibat embargo hingga kini, tak akan membuat masjid di Palestina sepi. Seperti Ramadhan pada tahun-tahun lalu, masjid akan menjadi basis kegiatan keagamaan warga. Masjid-masjid bahkan tak bisa menampung jamaah setelah diumumkan bahwa keesokan hari mulai dilaksanakan shalat tarawih.
Tahun 2007, Doa Qunut Menyambut Ramadhan
Memasuki bulan Ramadhan, Muslim Palestina mulai membaca do’a qunut bersama dalam salat. Mereka meminta kepada Allah swt agar mencabut penderitaan yang selama ini mereka rasakan. Termasuk do’a untuk meminta persatuan Muslim Palestina, meniadakan konflik sesama saudara di Palestina, juga do’a untuk menimpakan kehancuran bagi penjajah Zionis Israel. Menandakan bahwa mereka tidak mempunyai daya dan kekuatan apa-apa kecuali melalui do’a kepada Allah swt, agar rakyat Palestina bersatu memperjuangkan pembebasan tanah suci dari makar Yahudi. Fatah dan Hamas pun ada di dalam masjid dan ikut dalam salat. Mengharapkan perselisihan politik antara kedua pihak segera jernih dan bersatu dalam melawan penjajahan Zionis.
Dan Israel tetap menjadi bangsa yang buta dan tuli. Mereka tidak menggubriskan kecaman dan kritikan sejumlah organisasi internasional atas pembunuhan yang dilakukannya terhadap para pejuang Palestina. Tak peduli bulan Ramadhan, para pejuang Palestina terus menjadi target aksi kejam rejim Zionis itu. Laporan yang dirilis sebuah institut hak asasi manusia dan solidaritas internasional menyebutkan bahwa selama bulan Ramadhan, rejim Zionis Israel telah membunuh sekitar 33 pejuang Palestina.
Para pemimpin Israel menyebut kejahatan yang mereka lakukan sebagai upaya untuk mengakhiri konflik Israel-Palestina. Di sisi lain, pendukung setia rejim Zionis Israel, Amerika Serikat yang bersusah payah ingin menggelar konferensi perdamaian Israel-Palestina, hampir putus asa karena konferensi mereka diboikot mayoritas rakyat Palestina.
Tahun 2008, Israel Mengisolasi Tempat Suci
Pada tahun ini, Israel mengeluarkan larangan beribadah di Masjidil Aqsa selama bulan Ramadhan. Sebuah keputusan tak popular Israel terbaru yang melarang umat Islam shalat di masjid tercinta mereka, Al-Aqsa, selama Ramadhan.
Kekuasaan legislatif Israel hari ini membuat keputusan yang sangat aneh yaitu mendirikan tembok pemisahan rasial di seluruh Yerusalem dan menabur kawat berduri di atas tembok tersebut yang mencapai ketinggian 12 meter dan sampai ke tanah penduduk. Pemasangan sudah mulai dilakukan mulai dari bagian-bagian terpisah antara Qalandia dan pinggiran kota, banyak perlengkapan, katrol-katrol dan arsitek-arsitek khusus. Mereka sama sekali terhalang oleh kawat tersebut untuk memasuki Al Aqsha, menjangkau Al Aqsha benar-benar hanya menjadi mimpi. Penguasa di atas tembok menjadikan Al-Quds sebagai penjara, atau tempat militer yang terlarang memasukinya.
Israel terus-menerus mendekati isolasi kota dan menetapkan “Kekuasaan Khayalan” bahwa A-Quds merupakan ibukota negara Yahudi, mengabaikan fakta kebenaran akan tetapi pekerjaan ini tidak akan berhasil merubah bahwa A-Quds adalah kota suci Arab Palestina dan akan tetap terbuka pintu bagi semua orang yang beriman dengan agama Tuhan. Begitulah cara Israel menyambut Ramadhan dengan lebih banyak lagi kawat berduri, tembaok-tembok, dan penindasan yang menderitakan umat Islam Palestina.
Ramadhan 1429 Hijriah, Bayangkan Kita Di Palestina!
Entah bagaimana kesudahan nasib saudara-saudara yang jarang sekali kita doakan dan kita pintakan permohonan kepada Allah untuk keselamatan mereka. Mereka yang tidak pernah ada dalam doa ketika kita berbuka. Bahkan berbuka kita sering terlalu berlebihan tanpa ingat kepedihan hidup dan kelaparan yang ada di sana. Kita terlalu sering melihat ke atas, dan sering terjebak berfikir meninggi.
Saudaraku, ini sekelumit kesungguhan sebagai bukti keistiqamahan para pemuda di Palestina sana pada saat embargo tahun 2006 makin memuncak!
Kondisi memprihatinkan tak begitu dihiraukan. Warga, bahkan remaja Palestina akan menjalani Ramadhan dengan sepenuh hati laiknya Muslim di negara lainnya menjalani Ramadhan. Bahkan, Naser Al-Rizi, remaja berumur 16 tahun, berharap di Ramadhan tahun 2006 lalu dia mampu terus berjuang melawan penjajahan Israel di tanah airnya. Rizi malah berkeinginan menjadi seorang syuhada pada bulan penuh kemuliaan.
Demikian pula halnya Muhammad, laki-laki yang beranjak menjadi pemuda gagah ini tidak ingin terjebak dalam kesedihan dan keluhan. Justru Ramadhan merupakan harapan baginya untuk menemui Allah sebagai syuhada.
Bagaimana dengan kita, Saudaraku? Kesederhanaan memang belum semua kita yang bisa menjalaninya. Namun tetaplah harus ada, sebab keserdehanaan ini yang akan selalu menyambungkan hati kita dengan mereka bersama doa yang harus selalu terlantunkan untuk mereka selama bulan Ramadhan dan bulan-bulan berikutnya. Allah sangat membenci umat yang berlebih-lebihan. Apalagi di tengah kesulitan saudara-saudara yang lain. Dan tentu saja di balik ketidaksederhanaan itu ada jebakan untuk melemahkan semangat perjuangan kita dan melalaikan kita dari doa-doa untuk mereka.
Ketika Idul Fitri Datang
Maka dengarkanlah senandung ini…
Di kotaku, pada suatu hari raya
Anak kecil perempuan pun, dan Al Quds kami yang tertawan
Akan menyempurnakan perjalanan ini, atas petunjuk Rasul
Para wanita yang menjanda, para pemuda yang kebingungan, anak-anak kami yang yatim
Bagaikan pantai yang gersang
Bagi kita yang penikmat nasyid tahun 90-an mungkin mengetahui syair nasyid di atas. Sebuah nasyid yang sangat mengharukan dan menggugah kesadaran kita tentang kondisi memprihatinkan di belahan bumi lain pada hari di mana umat islam seluruh dunia merayakan hari Raya Idul Fitri dengan gembira mereka malah berlinang air mata, penuh kesiagaan, perjuangan, kesedihan, kebingungan, dan kesendirian.
Mungkin kita tak pernah merasakannya. Bahkan untuk sekadar membayangkan saja kita tidak pernah, bagaimana mungkin kita bisa ikut merasakan penderitaan mereka. Pantas saja di hari raya kita sering melampaui batas. Kita tertawa gembira seolah semua Muslim di dunia merasakan gembira seperti kita. Kita jalan-jalan keliling kota bersama teman-teman sedangkan di Al Quds sana jalan-jalan bagi mereka adalah sama saja dengan mengantarkan nyawa karena di setiap sudut bumi yang mereka pijak akan bertemu dengan pasukan Israel yang bereputasi KEJAM dan tidak mengenal rasa kemanusiaan.
Bagaimana bisa kita menikmati semua hidangan hari raya di saat kondisi saudara-saudara kita di sana sering kekurangan makanan? Dan ketika disadarkan akan fenomena ini kita malah sering berkata, “Di sini saja sangat banyak orang yang kelaparan dan kekurangan, mengapa harus memikirkan orang-orang yang jauh dari kita?” Itu alasan kita! Boleh saja diterima asalkan kita pernah berbuat sesuatu untuk mereka yang dekat dengan kita. Bahkan untuk menyisihkan sedikit uang saku kita untuk membantu mereka kita masih berat hati. Hanya seperlima dari uang pulsa 50 ribu yang kita beli setiap bulan. Kita memang sedang krisis dan sesungguhnya krisis akhlaklah yang paling ditakutkan sebab pada saat manusia tak lagi peduli dengan akhlak yang baik.
Lalu saudaraku…jika pada suatu hari raya kita sedang berada di Palestina sana. Akankah kita masih bisa menikmati kue dan ketupat lebaran, memakai pakaian baru, dan bersilaturrahim dengan kegembiraan yang luar biasa. Namun lagi-lagi kita tidak pernah membayangkan seandainya kita berhari raya di Palestina. Ah, saudaraku…Sesungguhnya kita belum menang!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s