Pahlawan Iman

Monday, November 10, 2008
10:09:22 PM

10 November 2008, tidak ada lagi yang tersisa kecuali kenangan. Warna klasik video yang muncul di layar kaca, tentara kita bersepatu lars, dan bersenapan mesin buatan luar negeri. Kita terkagum-kagum dengan hati yang penuh haru. Menatap wajah-wajah separuh baya yang masih tampak gagah dengan seragamnya. Kumis yang tak lagi terpelihara dengan baik sebab kebebasan negeri lebih penting dari sekedar pergi ke tukang cukur.
10 November 2008, yang tersisa hanyalah memori yang terekam. Bukan di jiwa-jiwa kita sebab kita tak pernah merasakan manisnya perjuangan bertaruh nyawa. Kita tidak berada di masa deru bom, tank, dan pesawat tempur menjadi keseharian yang terlalu biasa. Bukan di jiwa-jiwa kita sebab jasad kita tidak bersentuhan dengan serpihan puing-puing. Bila di memori masih sempat terekam, itu hanyalah warna klasik yang tiap tahun muncul di layar kaca. Sebab itukah kita masih sempat memainkan imajinasi kita tentang masa orang tua, ayah dan ibu kita bersekolah dengan baju dan celana pendek, lusuh dan kotor? Atau dengan itukah kita masih bisa membayangkan ayah dan ibu kita berhari-hari tidak makan, karena nenek kita belum mempunyai uang untuk membeli beras, atau kakek kita masih bergerilya di hutan?
Warna klasik itu masih terekam dan sesekali muncul di layar kaca. Mengapa begitu klasik? Sebab warna dunia negeri kita hanyalah darah dan tak mungkin rekaman itu penuh darah yang memerah. Jika sepanjang perjalanan sejarah negeri kita digambarkan dengan warna klasik itu bukan berarti tak ada warna lain. Darah memang merah, tapi bukankah hutan gerilya berwarna hijau?
Warna klasik itu terus menghiasi layar televisi terutama di hari peringatan proklamasi. Sayangnya tayangan itu hanya selingan tayangan televisi. Program utamanya adalah sebuah acara yang dianggap bergengsi. Konser Merah Putih namanya. Itu beberapa bulan yang lalu ketika kita sudah merdeka selama 65 tahun, katanya.
Di hari bersejarah pahlawan memang tidak pernah mengenal kata kalah, apalagi menyerah. Sebab menyerah berarti kita sujud di kaki penjajah dan kita sudah tahu dari dahulu pahlawan kita adalah manusia gagah. Kita juga boleh berbangga dengan kaum muda yang menculik ploklamator kita.
Meski yang pantas menyandang gelar pahlawan hanyalah mereka yang ikhlas, namun kadangkala ada momentum yang tersejarahkan sehingga seseorang bisa disebut pahlawan. Ustadz Anis Matta dalam artikelnya yang berjudul Momentum Kepahlawanan menyebutkan seseorang tidak menjadi pahlawan karena ia melakukan pekerjaan-pekerjaan kepahlawanan sepanjang hidupnya. Kepahlawanan seseorang biasanya mempunyai momentumnya.
Sulit-sulit mudah menjadi seorang pahlawan meski pun adalah sebuah keniscayaan bahwa kita bisa menjadi seorang pahlawan. Seperti kakek-kakek kita yang merangkul momentum penjajahan untuk mendapatkan gelar kepahlawanan. Mereka memanfaatkan sebuah momentum yang di negara mana saja selalu tersejarahkan. Memang benar mereka melakukan kerja pahlawan walau pun banyak alasan mengapa mereka harus melakukannya. Yang pasti di saat mereka menangkap moment itu, di saat itulah mereka dan moment itu tersejarahkan. Setidaknya potret di dinding tua rumah nenek kita selalu tersenyum pada kita. Seakan berkata, “Cucuku, teruskanlah perjuangan ini!”
Boleh jadi saat mereka hidup belum mengecap kemerdekaan. Karena itulah harapan yang terpatri di dalam dirinya adalah pewarisan semangat perjuangan itu sendiri. Bagaimana pun kita harus tahu bahwa merdeka bukan hanya fisik dan jasad negeri kita. Yang paling penting adalah momentum penjagaan kemerdekaan itu. Sebab dari jauh masih terdengar derap kaki berlars lebih banyak dari pejuang kita, mereka mencoba merampas iman kita dan memasukkannya ke dalam kemasan-kemasan bermerk. Lebih dari sekedar harga diri, aqidah pun semakin direnggutkan dari jiwa kita.
Maka, begitu mudah untuk menjadi pahlawan hari ini karena momentum yang membuat seseorang tersejarahkan sangatlah banyak. Kalau Ahmad Yani tersejarahkan ketika G-30/S-PKI sedang memuncak. Sayangnya beliau harus gugur demi gelar pahlawannya. A.H. Nasution pun punya kesempatan menyejarahkan diri dengan moment itu, meski pun beliau bisa melepaskan diri dari kejaran peluru dan tidak dianggap sebagai pahlawan revolusi. Atau kontraversi tentang pelekatan gelar kepahlawan bagi Bung Tomo yang sudah puluhan tahun meninggal itu. Tidak perlu sebenarnya gelar pahlawan bagi Bung Tomo, sebab dia sudah menyejarahkan dirinya dalam peristiwa 10 November puluhan tahun yang lalu.
Apa makna sebuah gelar itu? Rasanya tidak akan selesai percakapan dan diskusi-diskusi panas tentang pantas atau tidak pantasnya seseorang disebut pahlawan atau pantas atau tidaknya dia mendapatkan gelar pahlawan. Toh ada shahabat nabi yang ikut berperang mati-matian demi membela agama, namun hanya karena sakit dari luka-luka yang tak bisa ditahannya, dia mengakhiri hidupnya dengan cara dia sendiri. Saat dirinya hampir tersejarahkan, dia memilih siksa kubur karena tak jadi syahid. Dia melepaskan momentum yang hampir dirangkulnya dengan caranya sendiri. Ironis sekali.
Maka hari ini, cukuplah kita mengetahui bahwa seseorang menjadi pahlawan bagi dirinya masing-masing. Kita yang selalu peka dengan bahaya dan tanda-tanda yang buruk. Menyelamatkan diri dan jiwa kita dari kejaran musuh-musuh kita yang tampak mau pun yang gaib. Selalu berharap agar iman kita tak terenggut oleh dunia. Yang sering menjadikan doa sebagai senjata untuk menjaga diri. Kita adalah pahlawan. Pahlawan iman yang menjaga jiwa dari kejelekan sifat dan keburukan prilaku. Bukankah kita telah menjadi pahlawan bagi diri kita. Meski dengan segala hal itu kita belumlah yakin bahwa diri kita benar-benar seorang pahlawan. Kita sedang bertaruh dengan gelar pahlawan dan gelar al ghurur. Maka pahlawan iman yang seperti apa yang tidak akan tertipu?
Be continued….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s