SUICIDE ALA INDONESIA

(Antara Etika dan Ilmiah)

Oleh : Yulmaida

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok.
(Taufik Ismail dalam Tuhan Sembilan Senti).

Rokok telah menjadi darah dan daging bagi bangsa Indonesia. Bahkan jantung dan paru-paru mereka sekali pun sama pentingnya dengan sebuah berukuran kurang dari 10 senti ini. Lihat saja yang terselip di jari dan bibir orang-orang dari semua kalangan masyarakat di negara kita. Sebatang rokok mulai dari gaya yang sederhana sampai gaya orang kaya, dilahap (baca; dihisap) dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi.

Sangat memprihatinkan sebab gejolak ekonomi, sosial, politik, dan segala yang telah terobrak-abrik pada bangsa ini terjadi dalam kepulan asap rokok yang berlomba-lomba dengan asap pabrik dan industri di udara. Berpusar di angkasa dan menari bersama sinar mentari yang saringan ozonnya sudah bolong. Antara hisapan dan hembusan seakan kenikmatan yang muncul itu untuk merampas segala masalah. Bahkan logika pun sebenarnya telah dipertaruhkannya demi sebuah kesenangan yang menjelma menjadi candu. Tidak peduli orang-orang di sekitarnya batuk-batuk, mengibas-ngibas, bahkan menutup mulut dan hidung, bagi mereka cukuplah sesuatu yang individual, maka rasa sosial itu akan terabaikan dengan sempurna dan kecuekan menjadi ciri dan alasan yang klasik untuk tidak merasa bersalah.

Tidak salah jika seorang Taufik Ismail karena ‘gemesnya’ menyerang dengan ganas para pelaku ‘bunuh diri’ ini dengan puisi beliau yang sangat tajam dan cukup panjang. Puisi ‘Tuhan Sembilan Senti’ sebenarnya cukup atau bahkan sangat menggelitik telinga kita. Judulnya saja telah membuat jiwa orang yang mengaku beriman dan mempunyai tuhan terpuruk karena malu sebab telah menduakan sesembahan satu-satunya dengan benda berasap seperti obat nyamuk bakar ini.

Bagi para pecandu rokok, secara kasar bisa dikatakan menggeser urgensi dan kedudukan Tuhan dalam kesehariannya. Ibarat lampu dinding yang tidak akan bisa menyala tanpa minyak, maka rokok bagi seorang perokok adalah benda yang sulit untuk dipisahkan. Bahkan ketika buang air saja seseorang masih merokok. Begitulah kegilaan orang yang merokok digambarkan oleh sastrawan besar kelahiran Koto Gadang ini.

Sejauh mana rokok mampu mendistorsikan kesantunan lebih dari sekedar menghisap putung rokok di WC? Kalau ini sih namanya kegilaan pribadi. Namun rasanya sangat pantas bila kita lebih kritis terhadap kekurangajaran perokok yang berani-beraninya menghembuskan kuat-kuat asap rokoknya di tempat umum. Sehingga asap beracun ini berputar-putar di dalam bis kota, ruang kelas, loket pembelian karcis, di kantor pos tempat orang antrian, di ruang kerja, di pabrik-pabrik, bahkan di tempat yang sangat rentan terjadi kebakaran seperti di SPBU.

Candu telah mengalahkan kesantunan bangsa timur yang falsafah dan gaya hidupnya dulu sangat diagung-agungkan. Jika kita menegur seorang bapak-bapak yang lancang menyebarkan asap beracun di dekat kita sehingga kita yang merasa sangat steril dari racun ‘sialan’ itu menjadi terkontaminasi, artinya kita harus bersedia dan rela mendapatkan pandangan tidak senang. Itu reaksi yang lumayan dan berefek kecil bagi kita. Tapi bagaimana jika kita sempat dicaci maki dan dihujat sok suci?

Tidak banyak yang sadar diri dan mau menjaga secara penuh kesehatannya. Seakan tidak percaya dengan teori-teori yang telah dibeberkan oleh berbagai media mulai dari televisi, radio, spanduk, bahkan di luar kemasan rokok sendiri pun telah dicantumkan dengan jelas bahaya rokok ini.

Intinya candu itu benar-benar telah merusak akal kita. Tidak mengherankan juga, bila ada dokter yang merokok sedangkan mereka harus menyuapkan teori-teori tentang bahaya rokok kepada pasien. Guru yang mengajarkan tata krama dan sopan santun kepada murid-murid serta sangat marah bila memergoki muridnya merokok ternyata juga seorang pecandu rokok. Hanya seorang munafik yang mau mengatakan apa yang tidak dia kerjakan

Bercakap-cakap kita dengan jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok, bayangkan isteri-isteri yang bertahun–tahun menderita di kamar tidur ketika melayani para suami yang bau mulutnya dan hidungnya mirip asbak rokok.

Di bait ke sekian, Taufik Ismail dengan bahasa yang agak vulgar kembali ‘merajam’ para suami yang jadi pecandu. Bayangkan saja, bertahun-tahun lamanya isteri dan anak-anak menjadi perokok pasif. Mereka tidak pernah menghisap rokok, tapi setiap hari menghirup asap dari benda yang 4000 zat kimia beracun terkandung di dalamnya. Pantas saja sebagian ulama Islam mengharamkan rokok. Bukan fatwa sembarangan karena mereka tidak menyukai rokok, tapi cobalah kita analisa berapa besar kerugian yang didapat dari batangan rokok ini.

Sebut saja anak yang berani mencuri uang orang tuanya demi mendapatkan rokok. Belum lagi kebakaran dan ledakan di tempat-tempat yang rawan hanya karena puntung rokok yang lupa dimatikan. Atau penyakit kanker paru yang bersarang di tubuh perokok lambat laun mematikan jasad mereka. Apakah kita akan menunggu sampai kanker paru akibat rokok menjadi penyebab kematian utama manusia-manusia yang memijakkan kakinya di Indonesia? Atau menunggu Indonesia bangkrut karena semua orang merokok dan ‘menginfakkan’ rupiahnya ke kantong penjajah negara-negara Timur Tengah?

Maukah kita merenung sekarang? Demi bangsa kita yang nilai-nilai hidupnya telah bobrok dan kelihatan boroknya akibat korupsi nomor hampir teratas di dunia. Sebab kita adalah bangsa yang beradab. Beradab artinya berbudaya. Berbudaya berarti mempunyai etika. Dan bangsa yang mempunyai etika tentu saja punya pola hidup yang sehat, tidak mubazir, sopan, dan berakal. Tidak hanya pemuda dan orang tua kita yang ‘doyan’ rokok. Anak usia sekolah dasar sekarang sudah ada yang mencoba dan ketagihan nikotin yang terkandung di dalam rokok. Apa jadinya bangsa kita belasan tahun ke depan, bila bocah-bocah meminta uang jajan untuk membeli rokok?

Masalahnya sekarang bukan saja kematian akibat rokok yang menjadi dilema, tapi kematian akal akibat candu yang perlu dikhawatirkan. Kita tidak hanya perlahan-lahan menjerat leher kita dengan zat-zat kimia beracun yang terakumulasi dalam tubuh, tapi kita menggadaikan akal kita demi ‘tuhan sembilan senti’ ini.

Masyarakat kita adalah masyarakat bunuh diri. Bagaimana tidak? 250 zat beracun di dalam sebatang rokok cukup ampuh untuk membuat seseorang meninggal. Memang Ca Paru juga bisa disebabkan oleh silica yang sering digunakan untuk bahan campuran semen, tapi penyebab utama Ca Paru adalah zat-zat beracun yang terkandung dalam rokok

Maka, dengarlah rintihan Bapak Taufiq Ismail dalam puisi beliau yang lain:

Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia

Mari budayakan hidup sehat agar kita dan orang lain sehat!!!

Sang Pejalan, 13 Desember 2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s