Kapankah ayah mudik?

Mudik, sebuah tradisi yang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat Indonesia. Bukan kita tidak bisa lebaran tanpa mudik, tapi mudik ada pelengkap kemeriahan dan kemegahan Idul Fitri. meski pun harus kita akui, tidak semua kita yang bisa mudik karena berbagai alasan yang membuat mereka cukup sedih, tentu saja. Mudik. sebuah fenomena yang tersebabkan oleh tradisi merantau.
Urang awak, adalah orang-orang yang senang merantau. Mereka meninggalkan Ranah Minang, untuk menggeluti hidup, untuk sebuah cita-cita. Bujang-bujang Minang dahulunya adalah para perantau sejati. Mereka tidak betah di kampung meskipun di kampung mereka sudah bekerja. Untuk hal yang satu ini, mereka sangat patuh pada pantun Minang yang sangat terkenal, petuah dari orang-orang tua.
karatau madang di hulu, babuah babungo balun. Marantau bujang dahulu, di rumah baguno balun
Merantau seperti sebuah proses pematangan bagi mereka. Merantau bukan untuk senang, merantau untuk mencari hidup. keuletan dan ketekunan menjadi syarat yang tidak bisa ditawar lagi. Maka merantaulah para bujang Minang.
Itu dahulu, ketika adat masih kental dan budaya masih terjaga. Sekarang lebih mentradisi merantau untuk melanjutkan studi. Masih para bujang. Ditambah dengan gadih-gadih. sekali lagi, merantau adalah sebuah fase proses pematangan. Orang yang merantau harus kuat, mereka harus tahan uji di nagari urang.
Nah, kembali lagi kepada tradisi mudik. tradisi yang lekat sekali dengan kata Lebaran. Mumpung masih suasana mudik, saya ingin menuliskan tentang sebuah kerinduan yang bergejolak di jiwa saya tentang keluarga yang juga sedang di rantau. Wallahu alam, sebenarnya siapa yang merantau. Di Jakarta sana, ayah saya, umi, dan 4 orang saudara (5 jika ditambah dengan yang di Bandung), akan berlebaran lagi tanpa mudik. Keluarga memang tidak mengenal istilah mudik. seperti halnya muslim di Arab Saudi sana. Kami pun dengan legowo menerima. Toh ini hanyalah sebuah proses hidup. Kerinduan adalah buah dari jiwa-jiwa yang mencintai.
Mereka di sana menikmati lebaran mereka. Kami pun berempat di sini, masih di ranah Minang, menikmati pula dalam sesak jiwa penuh kerinduan. Lebaran ke-10 tanpa keluarga. Sedih, itulah yang selalu saya rasakan. di mana buhul-buhul yang terlepas, buhul-buhul fisikal hendak kusimpulkan kembali. Tapi tangan ini bukan lah tangan yang berkuasa untuk menyatukan kembali fisik kami.
Maka di suatu hari lebaran, saya pernah termenung-menung di tepian kolam ikan di dekat rumah adik ayah. Adik-adik ayah sambil tertawa melontarkan candaan yang membuat wajah saya merah dadu dengan mata berkaca. “Alah taragak lo ka Jakarta? Bamanuang-manuang se karajo mah.”
Anak-anak mana yang tidak rindu orang tua mereka. Mereka seperti oase di sebuah padang pasir. Telaga penyejuk. Darah Sunda memang mengalir setengah dari diri saya. Tapi ayah melengkapi separuh lagi dengan darah urang perantau. Di sana mereka bertemu, ketika tradisi merantau dilakoni juga oleh ayah. Urang rantau juga akan pulang kembali. Mereka akan memenuhi panggilan jiwa mereka ntuk sekedar menengok ranah yang mereka tinggalkan. Maka meskipun ayah menikah di rantau sana, saya akhirnya tetap menjadi gadih Minang. Memiliki lidah yang akrab dengan rasa pedas dan bahasa minang yang sangat fasih. Meski tak jarang juga saya makan gado-gado dan semur buatan umi.
itu 10 tahun yang lalu. ketika kami masih berkumpul di sini. Lebaran sederhana yang meriah, itulah suasana lebaran di keluarga saya. kami tidak selalu berbaju baru. tapi kami selalu gembira di hari Lebaran.
sekarang ayah memenuhi panggilan jiwa beliau lagi. maka berpisahlah kami di jalan ini, di saat ini. sebuah pertanyaan sedang saya lontarkan meski saya sangat tahu jawabannya. orang tua tidak pernah egois. mereka selalu berkorban untuk kesuksesan anak-anaknya. tapi saya tetap berharap, di sini, di ranah yang ramah ini. Kapankah ayah mudik?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s