Terimakasih telah percayakan kepada kami.

Apa cita-citamu, Nak?
Orang tua tidak pernah melontarkan pertanyaan itu pada kami. Mereka membiarkan kami melalui takdir dengan prinsip dan kepercayaan yang ditanamkan ke dalam hati-hati kami. Prinsip bahwa kami bukanlah mesin yang harus disetir. kepercayaan bahwa kami tidak perlu dimonitor terus karena itu akan melahirkan rasa ketidaknyamanan.
Sedang apa hari ini, Nak?
orang tua kami bukan orang tua yang menunjukkan kasih sayang mereka dengan cara-cara yang melankolis. mereka berfikir kerinduan tidaklah perlu didramatisir sebab bila didramatisir hanya akan membuat bendungan di mata-mata kami menjadi jebol.
berapa ip semester ini, Nak?
mereka tidak pernah bertanya tentang prestasi, mereka tidak pernah bertanya tentang nilai-nilai kami di universitas. tapi aku sangat tahu mereka punya harapan penuh atas kesuksesan kami kelak.
Nak, semester ini harus tamat ya!
mereka tidak pernah memberi warning yang membuat panik.
merasa besyukur meski dada penuh degup bila ingat kondisi kekinian. hidup seperti sebuah bayang-bayang bagiku. aku punya cita-cita tapi tidak melihat ada cahaya kesuksesan di sana. aku punya keharusan belajar di bangku kuliah tapi aku lelah dengan rutinitas itu. aku merasa ada sebuah dinding pemisah antara aku dengan kesuksesan. dinding ketakutan yang secara jujur aku katakan bahwa akulah yang membangunnya sendiri.
banyak nasehat yang masuk ke inbox memoryku, inbox hape, dan inbox fesbuk. aku semakin ketakutan, sangat ketakutan.

Advertisements

4 thoughts on “Terimakasih telah percayakan kepada kami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s