Uda Palestina (bagian satu)

Kawan pasti sudah tahu Palestina, bukan? Bahkan mungkin lebih tahu dari saya. Negeri yang diberkahi Allah, tempat bermunculannya para syuhada yang berjuang demi agama dan tanah air mereka. Yang berjuang dengan waktu dan tenaga,  harta dan jiwa mereka agar tanah wakaf dari Khalifah Umar bin Khattab ini bebas dari cengkeraman Yahudi Laknatullah’alaihim. Dari waktu ke waktu ada saja berita terbaru dari tanah suci ini. Tapi sekarang kita tidak sedang berbicara tentang Palestina. Saya punya cerita tentang seorang laki-laki yang berdagang buah di sebuah pasar di kota saya.

Tentulah ada hal yang istimewa dan unik dari laki-laki ini yang ingin saya ceritakan pada kawan. Sebab semua cerita berasal dari sebuah perbedaan. Ya nggak? Sebab ketika kita menceritakan seseorang, tentulah ada hal yang begitu saja menggelitik hati kita tentangnya. Jika di Minang ini kita memanggil seorang laki-laki yang lebih besar dari kita dengan panggilan Uda atau kadang laki-laki yang mungkin lebih kecil dari kita untuk  menghormatinya kita masih memanggilnya Uda, maka saya bersama saudara kembar saya menyebutnya Uda Palestina.

Cukup lucu kalau didengar barangkali. Tapi saya benar-benar punya cerita menarik tentang laki-laki yang saya sebut Uda Palestina ini. Cerita ini bermula ketika saya duduk di kelas 3 SMA. Saya sering memakai pin dengan gambar bendera Palestina di jilbab saya. Biasalah, dulu sering awal ghirah-ghirahnya mendalami Islam dan berdiskusi isu-isu umat Islam dengan teman-teman Rohis dan organisasi pelajar Islam. Suatu hari yang terlalu berkesan buat saya, ketika sedang membeli jeruk di pasar dekat sekolah. Saya ditanya tiba-tiba oleh laki-laki yang berdagang jeruk itu, “Are you from Palestine?”, ucapnya sambil memandang saya.

Sebuah pertanyaan dengan english pronounciation yang begitu mengagumkan membuat saya tergagap karena tidak mengerti sama sekali apa yang ditanyakannya. entah karena memang tidak pintar bahasa Inggris atau karena tergagap, atau karena suasana di pasar yang sangat bising, yang jelas saya yang berseragam putih abu-abu begitu terlihat bodoh di depan seorang pedagang jeruk. Dengan mimik balik bertanya, saya mengerenyitkan kening. Dia lantas mengulang dan menunjuk-nunjuk ke dadanya. Secara spontan saya melirik bagian depan jilbab saya, pandangan saya tertumbuk pada pin jilbab yang bergambar bendera Palestina dan tulisan save palestine. Dengan sangat malu saya menggeleng dan gagap berkata, “Oh, No!”

Pedagang jeruk, bisa bahasa Inggris. Amazing!

Sejak hari itu, saya dan kembaran saya tidak pernah lupa dengan kejadian itu. Terutama kegugupan saya, dan wajah uda itu. Kesepakatan spontan entah siapa yang memulai, kami menyebutnya Uda Palestina. Woi…heroik sekali kedengarannya. (bersambung)

Advertisements

One thought on “Uda Palestina (bagian satu)

  1. Pingback: Uda Palestina (bagian dua) « Sang Pejalan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s