Kemarau belum purna

Akal kita yang hilang
dedaunan kembali menguning di kemarau kali ini
menua dan akhirnya luruh disapu angin
kita masih sunyikan diri selepas subuh tadi
demi embun, aku tidak ingat pagi keberapakah pertemuan kita?

Akal kita yang mati
sejak mengabdi pada sajak, terpesona hingga lupakan
~ dedaunan hijau masih setia menaungi
kemarau belumlah purna di kota ini
entah di kotamu

Maret 2011
[teruntuk seorang pengabdi seni]

Advertisements

One thought on “Kemarau belum purna

  1. L maulida alfina

    dedaunan hijau masih ada, jika tidak dikotaku,dikotamu atau di kota kalian..masih ada:
    di bumi Alloh. ^___^

    Akal tidak mati, hanya pensiun dini sambil menghisapi embun upah dari kepenatan kerja menahun. bolehkan hamba berekreasi..

    *TERUNTUK: semua pengamat dan atau pengabdi seni.,

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s