Bintang Istanbul di langit Gaza

Satu abad yang lalu, Turki Utsmani merupakan satu-satunya negara yang mempertahankan bentuk pemerintahan warisan khulafaurrasidin. Pada tahun 1918, Sultan Hamid II wafat tanpa sempat menyaksikan runtuhnya institusi negara khalifah yang dibangun dan dipertahankan dengan tetes darah setelah diasingkan di Yunani karena konspirasi Yahudi.. Akhirnya Yahudi dengan leluasa masuk Palestina dan menjarah setiap sudut negeri suci itu.
***
Ahmad mengusap kasar peluh yang mengalir di dahinya. Dilangkahkan kakinya menuju Grand Bazaar[1] untuk membeli oleh-oleh untuk teman-temannya di Gaza. Hari-hari terakhir di Istanbul menciptakan kesedihan yang mendalam bagi pemuda berusia 22 tahun ini. Beberapa hari lagi dia akan berangkat ke Palestina. Hatinya terpaut pada manisnya perjuangan di Al Quds.
Sebenarnya Ahmad ingin berjalan-jalan dulu ke Spice Bazaar[2] untuk terakhir kalinya, namun dia harus berkemas-kemas untuk keberangkatannya ke Gaza. Dia memutuskan untuk pergi ke Masjid Sultan Ahmed[3] besok. Hati Ahmad sudah sebiru masjid bersejarah itu. Teringat olehnya kenangan bersama Hamid, Ibrahim, Kemal dan Shalah. Memandang kubah puluhan masjid yang megah dan indah di kota kelahiran mereka. Menyusuri jalan-jalan di kota wisata dunia itu dengan sepeda. Mencicipi meze[4] favorit mereka masing-masing. Ahmad paling suka dolma[5] yang disajikan dengan segelas yogurt.
Kini hanya tinggal sepeda yang selalu membawanya kemana pun dia pergi. Sepeda yang akan diberikan kepada Osman, anak tetangganya. Perlahan wajah putih, bersih, dan selalu santun itu memerah. Airmata menggenang di kelopak matanya. Bercampur dengan sisa wudlunya. Apakah keputusannya meninggalkan Istanbul untuk selamanya menjadi keputusan yang tepat? Padahal dia selalu merindukan saat-saat bersama bersama teman-teman pengajiannya mengadakan rihlah ke tempat bersejarah di Istanbul. Ya, Allah, berikanlah aku kekuatan, bisik hatinya. Sesaat gairah Ahmad kembali bangkit. Meninggi menembus awan di langit. Mencipta gemuruh tak terdefenisi. Melantun kembali ke bumi tempat dia dilahirkan. Meresap ke pori-pori jiwanya. Mengalir, bersirkulasi bersama darah mudanya.
Keesokan hari selesai shalat Zuhur di Masjid Biru, Ahmad menghabiskan siangnya di taman luas yang mengelilingi masjid tersebut. Tempat dia dan teman-temannya berkumpul 4 tahun yang lalu. Saat lautan air mata mengiringi doa mereka. Melepas Ahmad untuk melanjutkan studinya di Universitas Islam Gaza. Lintasan memori masih menghiasi pikirannya. Hamid, Ibrahim, Kemal dan Shalah seakan tidak rela dengan keputusan Ahmad. Bagi mereka Ahmad hanya akan mengantarkan nyawa ke sana.
“Doner kebab[6], Tuan?”
Seorang pemuda dengan tidak sopan duduk merapat di samping Ahmad yang termangu menatap Museum Aya Sophia[7] di seberang masjid. Wajahnya terlihat segar menandakan dia juga baru saja selesai shalat. Disodorkannya bungkusan plastik warna hitam pada Ahmad. Aroma daging yang dipanggang langsung tercium.
“Tidak, teşekkür[8],” ucapnya sedikit kikuk sambil menatap pemuda itu sekilas.
“Ayolah, erkek kardeş[9]. Tidak baik menolak rizki,” sekarang direngkuh bahu Ahmad. Tubuh Ahmad bergetar. Rengkuhan seperti itu pernah dirasakannya ketika berpamitan pada teman-temannya. Rengkuhan orang yang jumlah jari kanannya tidak sempurna. Ditatapnya pemuda itu lekat-lekat. Wajah dengan senyum sumringah. Bibir merah yang menandakan bebas dari nikotin. Parfum beraroma khas Turki. Alis pemuda berkemeja putih dengan lengan digulung sebatas siku itu sedikit terangkat seakan hendak menguji daya ingat Ahmad. Bibir Ahmad bergetar melafazkan satu nama.
“Shalah?” ucapnya dengan nada tidak yakin. Diraihnya tangan yang merengkuhnya. Tepat sekali. Sekarang dia menjadi yakin, ini Shalah yang selalu menyembunyikan kegembiraannya dan tenang tanpa ekspresi yang meledak-ledak.
“Sen[10]? Shalah?” Ahmad bertanya lagi. Kali ini dengan keyakinan yang penuh.
Pemuda itu mengangguk. Mereka saling merangkul dan bertangisan. Teringat janji mereka berlima di depan bangunan bersejarah itu. Janji untuk menjaga persahabatan dan membela kehormatan agama. Ah, Konstantinopel seakan kembali mengikat hati di sini, Ahmad membatin.
“Jadi kamu akan kembali ke Palestina?” setelah lama bercerita, Shalah menanyakan hal yang paling sensitif saat ini bagi Ahmad. Ahmad mengangguk pelan.
“Shalahuddin…” Ahmad memanggil nama lengkap temannya itu. Mahasiswa Istanbul Technical University itu terkejut. Disekanya airmata yang tersisa di pipinya.
“Yükselmek[11]! Jadilah anak-anak Shalahuddin Al Ayyubi yang gagah berani.”
“Ahmad, Shalahuddin itu akan bangkit sebentar lagi. Yakinlah itu!”
“Janji?”
“Insya Allah!”
Pelukan perpisahan Ahmad dan Shalah dipayungi rintik hujan. “Titip salam untuk Hamid, Ibrahim, dan Kemal. Mungkin aku tidak sempat berpamitan langsung. Besok pagi aku harus meninggalkan Istanbul. Studiku mesti selesai tahun depan. Setelah itu bisa lebih fokus membantu perjuangan Hamas. Ini untukmu.”
Dilepasnya kafiyeh[12] yang selalu diselempangkan di bahunya. Disodorkan kepada Shalah. Bergetar tangan pemuda itu menerimanya. “Pakailah! Aku ingin melihatmu seperti mühendis[13] Yahya Ayyasy. Engkau adalah penerusnya yang dinanti rakyat Palestina. Cepatlah tamat, Shalah. Aku akan menunggu di Gaza.”
Tak mampu menahan haru, mereka kembali berpelukan. Usai sudah panas hari itu. Berganti rintik yang semakin deras. Dengan nikmat dalam rasa kesyukuran, Ahmad memacu sepedanya membelah hujan. Al Aqsha dan Ash Shakrah memanggil-manggil.
***
Getir, Ahmad memandang rumah yang sekian lama ditempatnya sekeluarga. Namun kecelakan mobil yang ditumpangi orang tua dan adik menghapus semuanya. Rumah itu bukan miliknya lagi. Ahmad telah menjualnya kepada Baba[14] Osman.
“Osman, Abang pergi dulu. Jaga baba dan anne[15]. Jangan membuat mereka sedih,” sambil menyerahkan sepeda miliknya, direngkuhnya remaja yang sudah dianggap adik kandungnya itu.
“Abang akan kembali lagi, kan?” tanyanya dengan suara serak menahan tangis.
“Abang belum bisa memastikan.”
Ahmad sengaja berkata begitu agar Osman tidak merasa kehilangan. Diciumnya dengan takzim tangan Baba Osman. Kepada Anne Osman, tangannya hanya ditangkupkan di depan dada sambil mengucapkan terimakasih. Sarapan dolma favoritnya di rumah Baba Osman menjadi kenangan terakhir baginya.
Pandangannya terhalang kabut airmata. Mungkin Istanbul memang bukan tanah air abadinya. Ditatapnya sekali lagi rumah yang telah dihuninya sejak lahir, sebelum akhirnya melangkah ke jalan raya, menyetop taksi menuju Bandara Attaturk.
***
Akhir 2008
Studi Ahmad di Universitas Islam Gaza akhirnya selesai. Ahmad akan memperkencang intensitas latihannya di sayap militer Hamas. Israel meningkatkan pengawasan terhadap Gaza. Penyerangan-penyerangan sebelumnya tidak membuat bangsa kera itu puas. Hanya satu yang dituju dan diharapkan Ahmad dan teman-temannya di Gaza. Hidup mulia atau mati syahid.
“Ahmad, bersiap-siaplah! Insya Allah, kita dan beberapa orang lainnya akan dikirim lagi untuk mengikuti latihan. Kita tidak punya waktu banyak untuk istirahat.”
Rahim menegur Ahmad yang sejak tadi termenung-menung memandang anak-anak seumuran Faris Audah[16] yang berkumpul di atas reruntuhan bangunan. Mantan senior Ahmad di Fakultas Ekonomi ini begitu sayang kepada Ahmad. Sudah dua tahun Ahmad tinggal di rumah pemuda militan dan kuat itu. Ahmad tidak menemukan pada dirinya melainkan semangat dan kekuatan.
“Astaghfirullah. Baik, saya hendak berkemas-kemas dulu.”
Ahmad beranjak dari duduknya. Dimasukkan beberapa potong pakaian dan perlengkapan yang dirasa perlu ke dalam ransel. Ahmad berwudhlu dan melakukan shalat dua rakaat sebelum pergi berangkat ke markas Hamas. Sejenak hatinya berdegup karena sesuatu yang tidak dimengerti. Allah telah menitipkan jiwa dan jasadnya ke Palestina. Tidak boleh satu pikiran pun sanggup melemahkan semangatnya. Bayangan Istanbul nan eksotik tidak lagi dipedulikan. Pikirannya ditempa untuk tidak mengingat secuil pun dari masa lalunya. Kendati para insan masa lalu itu datang bersama harapan.
***
Ahmad terus berlari. Tanpa senjata rasanya tidak mungkin melawan tentara Israel yang tidak sengaja berpapasan dengannya di depan Universitas Islam Gaza ketika dia hendak membeli hummus[17].
“Dorrr! Dorrr! Dorrr!” suara tembakan bazzoka[18] menyalak. Allahu Akbar! Lengannya serasa hancur. Kafiyeh penutup kepala dan wajahnya membuat tentara itu begitu bernafsu mengejarnya. Kali ini bahu Ahmad menjadi sasarannya. Namun dia tak peduli. Larinya diperkencang dan membelok ke salah satu gang yang cukup sempit. Darah mengucur dari luka tembakan. Pandangannya nanar. Sekilas dilihatnya dua orang pemuda berlari ke arahnya, menopang tubuhnya yang hendak jatuh ke tanah.
“Hayatta kalmak[19], Ahmad!”
Ahmad tersentak ketika namanya disebut. Dipandanginya wajah kedua pemuda itu. Namun kesadaran Ahmad semakin menipis. Belum sempat berucap, tubuhnya melemah dan segera tidak sadarkan diri.
Dua hari Ahmad koma di Rumah Sakit Shifa. Dua pemuda yang menolongnya begitu cemas. Kadang mereka menggenggam tangan Ahmad seakan-akan hendak mengalirkan semacam energi kehidupan. Tidak ada yang tahu hubungan dua pemuda berwajah Turki itu dengan Ahmad sampai dia sadar dari komanya.
Dokter segera memanggil dua pemuda yang baru selesai shalat Maghrib itu. Ahmad kembali terkejut. Bibir pucatnya melafazkan dua nama.
“Ke…Kemal? Hamid?”
“Ahmad! Allahu Akbar!” serentak keduanya merangkul tubuh lemah Ahmad.
“T..Tum seni[20] mengapa sampai di Gaza?”
Kemal tersenyum. “Ahmad, masih ingatkah engkau janji kita di depan Masjid Biru? Tidak ada kehidupan yang lebih baik selain berjihad di jalan Allah. Palestina telah memanggil kami. Untuk bertemu Allah. Untuk bertemu dengan engkau, akhi.”
“Subhanallah…” bergetar jiwa Ahmad memuji keagungan Allah.
“Kalian ikut latihan militer Hamas?” sambungnya kemudian.
“Insya Allah. Sudah enam bulan kami mengikuti latihan. Dua hari yang lewat kami ditugasi untuk memata-matai checkpoint di pinggiran kota.
“Shalah dan Ibrahim, apakah mereka ikut juga?”
Kemal dan Hamid berpandangan. “Ahmad, kuatkanlah kesabaranmu. Mereka telah menjumpai Rabbnya,” kali ini Ibrahim yang menjawab. Terburai jatuh air mata Ahmad. Shalah menepati janjinya.
“Kemal, Hamid, bisakah ben[21] keluar dari rumah sakit sekarang? Aku ingin dirawat di rumah saja.”
“Sabar, Ahmad. Keadaanmu belum memungkinkan untuk pulang.”
“Iya, erkek kardeş. Tunggulah beberapa hari lagi. Sen tinggal dimana sekarang?”
“Aku tinggal di rumah Akhi Rahim. Di dekat universitas.”
“Akhi Rahim Abdullah?”
Ahmad tersentak kaget. Sepertinya Kemal mengenal Rahim.
“Ahmad, hanya pada Allah kita serahkan semuanya. Negeri ini negeri mujahid dan syuhada. Satu persatu mereka pergi menuju kehidupan yang abadi. Akhi Rahim Abdullah tadi pagi dikabarkan syahid karena serangan udara Israel. Sabarlah, Akhi.”
Air mata Ahmad semakin deras mengalir. Bukan disesalinya kesyahidan Shalah, Ibrahim, dan Rahim, tapi perjuangan yang masih panjang membuatnya ingin berjuang bersama. Ditatapnya langit Gaza dari jendela rumah sakit. Bintang-bintang Istanbul berkelipan mempesona bidadari syurga. Ayat Al Qur’an yang sering disitir Akhi Rahim seakan mengalun di telinganya.
“Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. Al Baqarah:207)
Sang Pejalan, Rabu/28 Januari 2009

1. Pasar terbesar dan tertua di Istanbul dan dunia yang berdiri sejak jaman kerajaan Ottoman.
2. Pasar terbesar kedua yang menjadi tempat belanja alternatif bagi wisatawan.
3. Dibangun pada abad. Kubahnya berornamen dengan kebiru-biruan, sehingga disebut juga Masjid Biru (Blue Mosque). Istanbul juga kaya dengan masjid bersejarah yang sangat kokoh dan kuat seperti Masjid Yeni, Masjid Rustam Pusha, Masjid Sulaymania, Masjid Sultan Ahmed, dll. Semua mesjid dibangun pada masa kekhalifahan dan tidak ada penambahan sejak runtuhnya kekhalifahan Turki Utsmani.
4. Hidangan pembuka
5. Nasi berbumbu yang dibalut dengan daun anggur dan biasanya disajikan dengan yogurt
6. Irisan daging tipis yang ditumpuk dan ditusuk dengan tusukan besar, kemudian dibakar vertikal sambil diputar.
7. Sebelum tahun 1454 Aya Sofia adalah gereja kathedral Byzantium. Ketika Konstantinopel dibuka Sultan Muhammad II (al-Fatih) gereja ini berubah fungsi menjadi masjid sampai 500 tahun kemudian. Pada tahun 1937, pemerintah sekuler Mustafa Kemal Ataturk mengubah Aya Sofia menjadi museum.
8. Terima kasih
9. Saudaraku
10. Kamu
11. Bangkitlah
12. Sorban dan selempang yang banyak digunakan oleh rakyat/pejuang Palestina. Mulai digandrungi para pemuda Eropa dan Asia
13. Insinyur
14. Bapak
15. Ibu
16. Bocah Palestina berusia 11 tahun yang ditembak mati oleh tentara Israel karena dianggap berbahaya. Menjadi inspirasi keberanian bocah Palestina lainnya.
17. Sejenis senjata api
18. Makanan khas Palestina
19. Bertahanlah
20. Kalian
21. Aku

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s