Astagfirullah

Hamid Jabbar

Astagfirullah penuh sadar
Astagfirullah sepenuh istigfar
Maka sudah remuk-redamlah aku
Dari debu kembali sezarrah debu
Walau debu sudah fitrahnya hanya kelu
Tapi tanggungjawab tak bisa hanya bisu
Katakan kata-kata yang semestinya mesti
Walau biar hanya kepada diri sendiri
Tapi justru pada diri sendiri aku tak mampu lagi
Sebab aku butuh tubuh utuh yang tak saling bunuh
Dan kini cerai-berai sudah jungkir-balik salah-kaprah

Astagfirullah astagfirullah astagfirullah astagfirullah
Astagfirullah hari-hari huru-hara diriku duhai astagfirullah

Tak selesai pada sekedar caci-maki ataupun haru-simpati.
Astagfirullah jungkir-balik salah-kaprah telah berlaku
Astagfirullah, telah berlaku terbeli terjual,
Namun bukan sekedar salah-cetak kiranya bila tiba-tiba laba jadi bala.
Astagfirullah bila bala jadi bola jadi loba jadi besar jadi sebar jadi kabar jadi bakar.
Astagfirullah. memang ragam jadi garam,

Tapi astagfirullah betapa perihnya teramat parah
Tersebab hati tertukar tahi
Maka jika padat menjadi dapat tentulah alhamdulillah,
tapi apa hendak dikata bila sokong ternyata kosong,
bila larat tak dapat diralat, jika mahar jadi Hamar,
bila ramah dinyatakan marah, atau lebah menjadi belah, rekat jadi kerat, raba jadi bara, bawah jadi wabah, Sahut jadi hasut, gosok jadi sogok, hingga semua hajat dan Hajat semua tertukar tempat menjadi jahat maha jahat,
Segalanya lagi gila, dan ini semua bukan salah ketik atau
Salah ketuk, hingga biar gratis pun ternyata sungguh tragis
Muaranya, maka tak putus-putus astagfirullah kuketukketuk
Ke segala remuk dalam diri nisbi ini, duhai diriku
Tangis segala tangis!

Astagfirullah, wahai diriku, diriku yang kukenal, wahai kukenal
Kujunjung tinggi, tapi tak kunjung kumengerti.
wahai entah salah apa, salah faham atau justru saling iti-dengki bin dendam antara kalian, wahai kalian dalam diriku yang mengaku bernama otak di kepala, hati di dada, lidah di mulut, hingga kaki dan tangan dan lutut terbalut-balut
Tersebab bertingkai-pingkai tak terlerai, tabrak-lari tabraklari,
Baku caci-maki! otakku bilang: diabetes!
Mulutku bilang: dialapar! tapi lambung dan duburku koor lain lagi: Diarakus diarakus!

Astagfirullah, begitu biangkah rakus menguras segala,
rakus akan kebenaran atau memang benar diarakus atas segala hal,
tak peduli salah atau benar!

Astagfirullah!

Astagfirullah wahai diri, diriku, urat dan nadi, darah dan gairah tumpah di arus jutaan jaringan anatomi ini, ruh dan jasad ini,

astagfirullah! astagfirullah kanal-kanal salah arus
Menjadi anak-anak nakal dalam diri, wahai anak-anak nakal
Banyak lagak salah urus jadi anak-anak galak yang tumpang
Tindih antara timpang dan rintih, antara sayang dan sedih,
Petak-umpet membangun pedih, repet-merepet tak sampaisampai
Tak letih-letih, di sana dan di sini, di kamar-kamar
Malam di rumah diri, ekstasi saling sodomi, zalimi duhai zalim menzalimi, saling makar di kelam kamar tak terperi.

Astagfirullah terbunuh sudah daku
Di hari-hari huru-hara diriku
Di duka satu koma tiga triliyun
Ngilu bertimbun-timbun
Duhai tak usai-usai istigfarku
Padamu
Ya Allah!
Astagfirullah
Laa haula wa laa quwwata illa billahil aliyil aziim

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s