Beliau yang telah pergi

Setelah Sapardi dan Taufiq Ismail, saya pun tertambat hati untuk melabuhkan perhatian pada karya indah dan menyentuh ciptaan Almarhum Hamid Jabbar. Hamid Jabbar, yang ternyata orang Minang ini (ikut berbangga sebagai orang yang memiliki sebagian darah Minang, heu) saya kenal pertama kali bukan lewat karya beliau tapi lewat info di majalah Horison waktu itu tentang kepergian beliau di panggung puisi.
Penyair yang memang memiliki obsesi meninggal ketika sedang membacakan puisi ini ikut menyentuh hati saya sebagai orang yang antusias dengan puisi. Beliau telah termasuk dalam daftar referensi saya dalam menulis puisi. saya pun akhirnya turut merasakan kehilangan. Ya, kehilangan yang terlambat karena setahun setelah kepergian beliau ini saya baru membaca profil beliau. Saya ingat waktu itu membaca Majalah Horison di Pustaka sekolah tahun 2005. Masih berbaju seragam putih abu-abu saya waktu itu. Takjub sudah saya dibuatnya. Dunia kepenyairan Indonesia bahkan dunia waktu itu sangat berduka. Penyair bertubuh kecil ini sangat dikagumi ternyata. Puisi-puisi beliau yang sangat khas dan tema yang sangat saya gandrungi pula. Religi, sosial, dan politik.
Meskipun waktu kelas 3 SMA itu saya belum punya satu pun koleksi puisi beliau karena saya tidak punya fasilitas apa-apa kecuali pustaka sekolah dan ke pustaka itu artinya harus meminjam satu buku kumpulan soal ujian nasional. no internet, no book, and no mobile. Mengejar ketertinggalan.
Selepas SMA saya mulai mengoleksi banyak puisi penyair Indonesia. Di PC saya tempatkan dalam satu Folder. hingga status-status di fesbuk saya seringkali mencomot karya-karya indah mereka. Di sana saya bertemu pertama kali dengan puisi almarhum yang berjudul Proklamasi 2. Subhanallah. saya sangat tergugah membacanya. Menusuk. Kalau saja saya Bung Karno, saya akan merasa sangat malu.

berikut syairnya:

Proklamasi 2
Kami bangsa Indonesia
Dengan ini menyatakan kemerdekaan
Kemerdekaan Indonesia
Untuk kedua kalinya!!

Hal hal yang mengenai
Hak asasi manusia
Utang piutang
Dan lain-lain
Yang tak habis-habisnya
INSYA ALLAH
Akan habis

Diselenggarakan
Dengan cara saksama
Dan dalam tempo
yang sesingkat-singkatnya

1992

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s