Kita, Ayah, dan buku-buku [bagian satu]

Ayah saya bukan orang yang berpendidikan tinggi. Tapi mendidik kami untuk berfikir se-intelek mungkin adalah gaya mendidik beliau kepada kami sejak kami masih mengeja alif ba ta tsa ja. Dengan buku Iqra di atas meja atau di samping mesin jahit beliau, kami menunduk dan mengeja, mengeja, dan terus mengeja. Kadang takut salah, tapi kami adalah kanak-kanak yang sedang belajar segala hal. Dalam sistem yang penuh aturan dan nilai-nilai, kanak-kanak wajar merasa takut berbuat dan berkata.
kami bukan kanak-kanak nakal. Rata-rata menyandang peringkat pertama, kedua, ketiga, atau sepuluh besar. Meski kami pun bukan anak jenius. Bercerita masalah nakal sebenarnya kami juga bukan anak baik dan penurut sekali. sering juga kami adu kekerasan, kekasaran, dan raungan yang menyayat jika disakiti. hehe. yang jelas ujung-ujungnya kena jewer bibir ama kuping. sekali sekali kulit kaki kami kena sentuhan lidi juga. hemmm.. trauma sedikit, karena pada dasarnya kami bukanlah anak-anak kuat. sebagian dari kami cukup pendiam dalam tataran sosial. Tidak terbiasa berbicara banyak di depan umum. Tapi sebagian lagi malah sangat menakjubkan kelancaran berbicaranya. faktor kebiasaan dan pribadi.
berbuat adil memang susah. Walaupn sudah berusaha seadil2nya tetap dinilai tidak. Itulah mungkin yang dirasakan seorang ayah yang memiliki 9 anak. beragam karakter anak yang sangat memusingkan. Barangkali saya akan pusing meski hanya punya dua anak [insya Allah kalau sudah menikah, tentu saja].
Kembali ke cerita mendidik dengan sangat intelek. meski ayah bukan sarjana tapi pemikiran beliau jauh melewati cakrawala para sarjana. Ayah memang gaptek karena dunia teknologi bukanlah hal yang menarik bagi beliau. dan usia yang memang sudah terlalu sulit memahami kerumitan alat yang memiliki sentuhan teknologi. saya tidak malu ayah saya gaptek. menguasai teknologi bukan sebuah kebanggaan bagi saya meskipun saya gak gaptek2 amat.
ayah sukanya mengupas dunia sosial dan politik serta agama. meski sekarang ayah tidak lagi terjun ke dalam dunia itu. dunia yang telah ditinggalkan ayah 12 tahun yang lalu. tapi informasi tiga dunia itu tidak pernah ditinggalkan beliau. jendela dunia ada dalam sebuah koran nasional yang beliau konsumsi setiap hari. beliau tidak menyuruh kami membaca, tapi kebiasaan beliau telah menyuruh kami untuk meniru, meniru, dan terus meniru. sehingganya saya punya obsesi memiliki koleksi ribuan buku dan menciptakan sebuah pustaka tersistem rapi. [citacita.com].
Buku. Book. Instruments that record , analyze, summarize, organize, debate in explained information that are illustrative in non illustrative hard bound paper bag jacket in non jacketed with forward introduction, table of content, index, that is intended for the enlightenment, understanding, enrichment, enhancement and education of human brain’s sensory route of vision
Sejak kecil tanpa kami sadari sebenarnya kami sudah bergelut dengan buku-buku. Sejak mulai pertama membaca dengan kartu huruf, belajar menghitung dengan potongan lidi, sejak itulah kami berkenalan dengan buku. saya ingat cerita Ranchordas dalam 3idiots yang mendefenisikan kata Buku selesai menghujat sistem pendidikan yang berkiblat kepada hafalan dan defenisi tanpa paham makna.
saya terkenang dengan rak buku dua tingkat yang dipakukan ke dinding rumah kayu kami di kampung dulu. tersusun dengan ‘tidak rapi’ buku-buku milik ayah. rata-rata buku agama. kaya sekali rasanya memiliki buku-buku. ibaratnya kita sudah menggenggam dunia yang ingin kita jelajahi. buku, diskusi, dan koran itulah agaknya yang membuat ayah semakin berwawasan luas. juga mungkin ilmu yang selalu dibagi kepada murid-murid ‘tidak resmi’ beliau.
saya tidak tahu kemana buku-buku itu pasca kepindahan kami ke rumah lain. dipinjam tanpa dikembalikan, tercecer, atau entah dibawa orang yang tidak bertanggung jawab. yang jelas sampe hari ini saya masih heran kenapa ayah dan buku-buku tidak lagi identik. kesibukan beliau berkerja mungkin menyebabkan beliau tidak lagi sempat memikirkan untuk membeli buku dan membaca buku. maka informasi instan dari koranlah yang jadi alternatif. Ayah mengajarkan banyak hal tanpa bicara.
saya juga ingat sebelum masuk sekolah sudah bisa membaca dan berlomba-lomba menamatkan satu buku meski gak terlalu paham maknanya.
memasuki usia sekolah saya mulai tertarik dengan buku-buku sastra.

[bersambung]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s