Belajar menghadapi kesedihan, Belajar Ikhlas

1 syawal di kampungku
Pagi itu pasca shalat id, kami langsung ta’ziah ke rumah salah seorang keluarga jauh yang anaknya meninggal kanker darah. Suasana duka sangat mendominasi keramaian tersebut. Ayahnya duduk di kursi teras sambil memandang jauh ke depan. Beliau tidak menangis (lagi), mungkin karena beliau laki-laki. Ibunya duduk bersimpuh di samping tempat tidur.
Apa yang saya rasakan hari itu adalah kecamuk yang sangat dahsyat mengingat betapa muda usia perginya. Sebentar lagi mungkin orang-orang terdekat saya, atau bahkan saya sendiri.
Apa yang saya rasakan, teman? Saya larut menunduk. Bukankah ajal tidak memandang usia. Adik ini mati muda. Ajalnya diakhiri oleh penyakit mematikan. Banyak orang di luar sana mati muda. Bahkan tanpa penyakit apapun.
Cukup lama saya berada di antara orang-orang dengan mata merah menahan tangisan. Cukup bagi saya menyaksikan adegan yang membuat air mata saya ikut mengalir. Ketika seorang teman adik yang mati muda ini, mengusap wajah dan berdoa di samping jenazahnya. Lalu teman yang lain mencium wajahnya untuk terakhir kali dan berbalik pergi sambil menangis. Entah karena tangisan entah karena suatu yang tak bisa didefenisikan, tiba-tiba air mata saya ikut turun. Inikah kesedihan yang dialami orang-orang terdekat?
Beberapa hari setelah itu, tepatnya tanggal 3 September 2011, ketika bangun dari tidur Subuh itu saya mendapati diri saya tak lagi berada di kampung halaman karena sebuah berita yang mengejutkan. Nanda, teman dekat saya dan kembaran saya, telah ditinggalkan papanya. Kesedihan apa lagi yang paling akhir kecuali kematian. Tergesa kami berangkat ke Padang dengan jantung penuh degup. Ya Rabb, jika saya adalah Nanda hari ini, mungkin saya tidak akan sebegitu tabahnya. Tapi tidak begitu dengan Nanda. Pertama kali melihatnya di kerumunan teman-teman dan saudaranya, Wajahnya tetap cerah dan tersenyum. Justru saya yang ingin menangis. Justru saya tidak habis pikir. Inilah keikhlasan yang abadi. Nanda telah menunjukkan pada saya. Tugas saya meneladaninya.

Padang, 7 September 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s