Abacus

ABACUS

Apakabar, teman?
sambil berhitung, melintas kenangan kanak-kanakku
mungkin tidak seperti riangnya anak-anak
di playgroup tua kampung kita
sebab lidahku tak pernah mengecap nyanyiannya

seperti nyanyian sepi pucuk pohon atas bebukitan
dan halimun dingin yang selimuti puncaknya
terngiang lantunan Qur’ani dari jiwa nan Rabbani
tunduk kaki dan tangan memenjara kenakalan
diam hingga jadi kebiasaan
Magrib, teman! kita korbankan permainan

“Untuk apa puisi-puisi itu engkau tulis kembali?”
tanyamu suatu hari
“aku ingin jadi penyair”
ah, mereka yang mengembara di lembah-lembah?
tidak, ini hanya potongan masa depan
aku hendak jadi penulis

Tiba-tiba ombak kesadaran memhempas lamunanku tumpah ruah
malam ini aku penyair
siangnya aku hanyalah si penggemar petualangan
dengan gemetar menjalani masa
yang hanya tinggal sekerat kecil

bukan syair ataupun prosa kehidupan orang-orang
karena smua telah dirampas pergi
ini sebuah abacus
dengan jemari kaku menggesernya

(mengenang yang telah pergi)
Jum’at, 23 Desember 2011

Advertisements

2 thoughts on “Abacus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s