Mari menulis (lagi) part 1

Hidup bukanlah keterasingan yang abadi. Hidup adalah hari-hari di mana engkau diberi peluang untuk selalu berbuat dan bertindak sesuai kesadaranmu, kesadaran yang rendah sekalipun. Hidup adalah peluang mengerjakan kebaikan sekecil apapun tanpa meminta kembaliannya. Terkadang luka, marah, dan menangis. Memang. Tapi hidup bukanlah peluang membiarkan rasa lemah terhadap jiwamu. Sebab jiwamu, jiwamu itu adalah benda paling kuat yang engkau miliki. Dan akalmu, adalah benda paling tajam yang selalu kapabel untuk engkau asah. Serta jasadmu, adalah penopang kedua harta berhargamu itu. Bila jasadmu sakit, selalu ada obat untuk menyembuhkan morbiditas itu. Dengan kesembuhannya itu, dia kembalikan kekuasaan jiwa dan akal
Tapi yakinlah kesakitan itu tidak akan abadi kecuali berujung kematian, dan dia tidak pernah membuat akal dan jiwa menjadi hapus. Tapi sayangnya jika jasadmu mati, hati dan akal akan hilang bersama-samamu. Maka tuangkanlah seluruh kekuatan jiwa dan pertajamlah mata akalmu untuk memahat prasasti yang akan diwariskan. Engkau tidak pernah mati bagi generasi setelahmu.

(Disarikan dari nasehat-nasehat seorang ustadz kepada anaknya)

Advertisements

3 thoughts on “Mari menulis (lagi) part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s