Lemonia ukhuwah (part 2)

Sejarah, kata seorang bijak, janganlah pernah melupakannya. Karena diri kita yang sekarang adalah merupakan produk masa lalu, yang untuk selanjutnya kita sebut saja dengan istilah yang berasal dari kata sajaaratun itu. Masa kini kita adalah efek dari segala kompleksitas peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lalu. Seseorang tidak akan bisa berpaling dari sejarahnya. Karena sejarah adalah bagian dari dirinya. Yang bisa dilakukan adalah menjadikan sejarah sebagai refleksi untuk memantulkan kebaikan yang berlimpah. Yang bisa dilakukan adalah memperbaharui diri dan menjadi pembaharu.
Nah, setiap kita tumbuh dan tumbuh dibayang-bayangi sejarah. Ada yang bangga dengan sejarahnya. Menceritakan dengan bahagia ke generasi setelahnya. Ada yang benar-benar ingin melupakan sejarahnya. Tapi para pemahat itu selalu memahat ceritanya. Dengan maksud tertentu. Mungkin hanya sekedar untuk mengenang dengan wasilah yang jelas dan mudah diulang-ulang.
Berbicara tentang sejarah, saya ingat bapak guru berwajah teduh itu , dengan suara lembut dan bahasa yang kaya dengan kebijaksanaan dan kebajikan mengajarkan kami tentang bagaimana sejarah membesarkan suatu bangsa. Tapi dengan optimisnya beliau mengatakan, yang ini bukan sejarah kita, ketika kami belajar pithecanthropus erectus.
Oh ya, dalam hal ini sebenarnya saya tidak sedang berfilosofi tentang sejarah, meski akhirnya saya merindukan butir2 nasehat dari bapak Parendangan Nasution yang kami panggil pak Dadang itu. Suatu hari dalam perjalanan pulang dari pelantikan rohis sekolah kami, saya dan kembaran duduk di dekat beliau. Tidak disangka beliau menanyakan kabar kami dan keluarga di jakarta. Sampai obrolah kami habis di sebuah tempat penjualan buah-buahan khas sana. Si bapak bertanya “kampungnya di mana?”. “di sini, pak.” jawab kami sambil tersenyum. Sedikit tercengang beliaunya, tapi ikut pula tersenyum. Semoga hidup beliau yang penuh makna dan kesederhanaan itu dirahmati allah. Salam untukmu, yang mewariskan khazanah ilmu yang berharga.
Di sekolah itu, saya mendapatkan teman-teman yang sederhana pula. Lengkap dengan karakter beragam tapi tetap dengan ‘tampilan’ apa adanya. Pertemuan-pertemuan berawal dari majlis ilmu, berangkatlah menuju ikatan yang sangat kokoh. Obrolan demi obrolan yang menjelaskan siapa dia, siapa saya, dan siapa kami. Canda yang kadang menjadi berlebihan. Salah paham yang hanya sebentar karena selalu dapat lagi lebur dalam keyakinan bahwasanya kebersamaan yang unik itu berlandaskan cinta karena allah.
Oh ya, saya jadi ingat tangisan yang ada dalam rasa cemburu itu. Ingat curhat-curhatan yang selalu menjelaskan ‘siapa saya’ itu. Curhat-curhatan bahwa ‘saya’ sedang cemburu kepada kalian, ukhti fillah. Malam itu (di sebuah mabit), kami bertangisan karena ‘saya’ sedang cemburu pada kalian. Dan kalian menjelaskan, sebenarnya tidak perlu cemburu karena ini hanyalah soal kedekatan, kecendrungan, kapabilitas, potensi, pelajaran berharga, dan usaha untuk terus belajar.
Saya juga ingat keputusan kita untuk tidak menegur dua orang yang lebih memilih ta’limat tarbiyahnya dibandingkan mendekor ruangan dan stand bazaar untuk tabligh akbar besok. Semoga saja mereka tahu kesalahan, itu tujuannya. Inilah sisi kekanakan kita. Saya tersenyum setiap mengenangnya.
Oh ya, adakah ingat saat kita berkumpul dan menjadikannya sebagai hobi selesai sekolah di masjid tercinta kita. Ini bukan soal kebiasaan, tapi ini hanyalah sebentuk kecenderungan itu sendiri. Yang membuat kita merasa nyaman meski hanya sekedar bertanya, habis ini mau kemana? Ada rapat Assalam kah? Atau mau pergi les? Ini hanyalah soal kerinduan menatap sebentar dan bertanya kabar dari bahasa wajah. Setiap kita pernah menangis dan menjelaskan bahwasanya ‘saya’ sedih.
Ingatkah kita, ada yang menangis karena gugup saat tampil nasyid di sebuah sekolah. Atau ingatkah kita saat ada yang belum bisa membayar uang sekolah. Ingatkah, saat-saat beberapa orang menceritakan tentang keadaan keluarga. Kita selalu menjadi diri sendiri saat berkumpul bersama.
Ada dari kita yang tenang, kalem, dan lebih banyak mendengar
Ada dari kita yang pemalu, sedikit pendiam, suka gugup, tapi suka menulis
Ada dari kita yang berjiwa pemimpin
Ada dari kita yang tipe pembelajar, suka membaca dan berdiskusi
Ada yang terbuka dan suka bercerita
Ada yang polos dan sulit sekali untuk memarahi orang yang suka mengganggunya
Ada yang nyeni, suka ngelawak, dan periang
Ada banyak karakter kita yang berpadu menjadi sejarah yang selalu kita bahas di reunian kita.
Ingatkah, saat kita bertemu setelah sejarah itu, selalu ada pekik kegembiraan? Kita berjanji akan bertemu lagi, nantinya.
Itupun, semua kita ingin. Aku dan kamu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s