How bad am I?

aku tahu aku bukanlah orang yang membanggakan
aku bukan oarng yang cukup pintar
aku bukan yang orang2 inginkan
aku mengecewakan
aku malu
aku pun kecewa kenapa saya begini
aku tidak benar-benar cuek
aku tersiksa
aku menderita
aku benar-benar tidak bisa diharapkan
aku hanya bisa bertanya, adakah yang mengerti saya
adakah yang benar-benar mengerti?
ataukah kalian yang yang mesti bertanya
tidakkah kasihan pada kami semua
tidakkah ingin membuat orang tua bangga dan bahagia

aku berputus asa, sejujurnya aku tidak kuat lagi
tidak pernah aku punya keinginan
tidak bisakah kukembalikan harapan
membalikkan masa depan dan memperbaikinya
mengantarkan sedikit kepandaian dengan perlahan

aku cemburu pada kalian, aku cemburu pada kalian
mengapa tidak bisa seperti kalian
yang memiliki masa depan cerah
yang bisa mengadu dan berkeinginan

aku seperti terbuang
tidak terkendalikan
mungkin aku liar
mungkin aku bodoh
mungkin juga durhaka

Advertisements

7 thoughts on “How bad am I?

  1. Zen

    kadang putus itu hampir hinggap
    tapi asa kembali datang menyapa
    menyapa harap di dada
    untuk meraih ridha-Nya..

    sebenarnya untuk apa aku ada di dunia?
    untuk apa aku dilahirkan?
    aku cari dan aku cari mengapa?
    kutemukan jawabannya

    dan tidaklah Kuciptakan jin dan manusia
    kecuali untuk beribadah kepada-Ku
    begitu firman Tuhan-Ku
    membuatku terhenyak

    aku terbangun dari mimpi buruk
    aku berusaha untuk sadar
    bahwa aku ada
    untuk mengabdi pada Tuhanku

    aku sehat tubuhku lengkap
    panca inderaku berfungsi baik
    sementara tetanggaku ada yg bisu dan tuli
    ada saudaraku yg lemah mental

    ternyata aku dapati
    diriku kurang bersyukur pada Tuhanku
    itulah yg membuatku rendah diri
    Tuhan, maafkanlah aku..

    Reply
      1. Zen

        kulihat sekeliling
        ada tangan yang mengulur
        menawarkanku untuk berdiri kembali
        menegakkan badan yang lemah lunglai

        senyumnya bagaikan sinar mentari pagi
        yang tak pernah bosan menyinari
        kutatap dirinya lekat-lekat
        ternyata dia adalah Al Qur’an

        kuraih uluran tangannya
        kubalas senyumnya yang tulus
        kuajak dia bercengkrama
        hingga tak terasa tertetes air mata

        oh Allah maafkan hamba
        atas khilaf yang hamba lakukan
        hamba mohon bimbingan-Mu
        untuk kembali ke jalan-Mu yang lurus

      2. aidarabbani Post author

        jazakallah teman… kita tidak saling mengenal
        lambat laun meski terbata meski meraba meski merangkak
        aku menjadi tahu hakikat, segalanya selalu dijawabNya dengan begitu indah
        kehidupan tidak seburuk yang kita duga ketika air mata mengalir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s