Masjidku, masjidmu, dan Kaum Ekspatriat

Di hari yang cukup menegangkan dalam ‘pelarian’ itu, kami bertiga melintasi sebuah mesjid. Bentuknya sama dengan mesjid yang lain. Tapi ada dua hal yang membedakannya dari rata-rata mesjid di kota ini. Pertama, di sana banyak eskpatriat. Barangkali mereka sudah turun temurun dari masa lampau. Dari zaman yang kita tak berada di dalamnya. Di tempat yang sama sekali tak terpinggirkan, namun tak cukup banyak orang mengetahuinya.

Di perlintasan itu kami terpesona sejenak. Serasa berada di Timur Tengah atau Negara Anak Benua. Lelaki dan wanita berhidung mancung dengan kulit gelap dan tubuh tinggi tegap. Kusimpulkan kaum mereka di sini sejak dari masa yang tidak kita jamah, sebab mereka sangat fasih berbahasa Minang. Mungkinkah mereka India Keling di Padang yang sering disebut-sebut orang tua-tua kita dahulu? Aku tidak tahu pasti. Yang pasti di sana juga ada orang-orang berwajah Timur Tengah lengkap dengan janggut lebat dan peci.

Kami masih berada di sekitar sana ketika mu’adzin mengumandangkan adzan sehingganya mesjid itulah tempat persinggahan kami selanjutnya. Pesona berikutnya memancar dari ruangan bercat dan berubin putih yang tidak terlalu luas itu. Semacam rasa takjub kemudian mengalir di hati kami. Melihat toilet dan tempat wudlu yang sangat bersih meski jauh dari kesan mewah. Lantai mesjid yang bersih, kain hijab berwarna hijau yang tak kalah bersihnya. Sesuatu yang unik juga kami dapati dari pemasangan hijau. Mereka memasang hijab untuk wanita di segala sisi membentuk bujursangkar dengan mengikatkan talinya ke besi yang dipasang di tiang-tiang mesjid. Sehingga kita merasa nyaman shalat dengan tak terlihat sedikitpun oleh laki-laki yang melewatinya. Kami saling mengatakan, demikianlah seharusnya.

Kami tidak cukup lama berada di sana. Tapi sebuah pencerahan tiba-tiba saja mememenuhi pikiran. Sesuatu yang berbeda kadang menjadi terpinggirkan dan tak dikenali. Tak dikunjungi dan tak dipedulikan. Mungkin ini bagi sebagian orang adalah hal yang sepele. Tapi bukankah kita selalu terganggu dengan aroma menyengat toilet di masjid-masjid kita? Bukankah kita sering mengeluh dengan bau mukena masjid yang membuat kita cukup teler. Salah seorang teman mengatakan, mana bisa khusu’ kalau mukenanya bau kaya gini?

Kita merasa terganggu setiap hari, setiap berada di rumahNya. Tempat kita menyambungkan pikiran dan hati kita pada Sang Khaliq. Bahkan setiap selesai shalat, banyak jama’ah maota lamak dengan frekuensi yang tidak kepalang tingginya. Tertawa keras di sela-sela pembicaraan mereka. Mesjid seperti dijadikan tempat reuni selesai shalat. Tempat bergosip oleh dua orang sahabat dekat yang sama-sama membenci satu orang. Astaghfirullahal ‘azhiim!

Sehingganya setiap selesai shalat ketika beranjak keluar dari sebuah mesjid, kami sering berkata dengan sangat jengkel, “Ih WC masjidnya bau sekali” bukan perkataan seorang yang memberikan solusi. Karena jujur, banyak dari kita tak pernah berbuat sesuatu untuk masjid manapun. Hanya infak beberapa ribu yang kita harapkan mampu menghilangkan kesempitan hidup.

Entah bagaimana dengan negara-negara lain? Konon kabarnya mesjid-mesjid di negeri Kinanah sana memiliki toilet dan tempat wudlu yang tak kalah kotornya. Salah seorang teman yang pernah kuliah di Al Azhar University pernah menceritakannya padaku. Sehingga kalau ia pergi shalat ke masjid, ia harus wudlu dulu di rumah. Entah apa yang membuat fenomena yang semacam ini begitu kontras dengan kalimat yang dikutip oleh seorang ustadz yang baru saja berkunjung ke Mesir dan Palestina beberapa sekitar 3 bulan yang lalu. Jika ada orang yang ingin belajar akhlaq, maka pergilah ke Mesir. Ustadz tersebut juga menyatakan keheranannya.

Mungkinkah ini warisan Mubarak yang berpuluh-puluh tahun menjalankan kediktatoran yang melahirkan bangsa yang kotor dan kasar? Bersyukur kita mendengar hari ini di sana sudah dipimpin oleh Mursi yang sangat bersahaja itu. Beliau tinggal di rumah kontrakan yang sederhana untuk seorang presiden. Inilah pemimpin yang diisyaratkan Rasulullah. Yang tidak ingin berbeda dengan rakyatnya. Inilah pemimpin yang berambisi menegakkan syariat Islam sehingga seorang ulama salafiyah terkenal di negara itu ikut dalam aksi turun ke jalan yang dihadiri oleh jutaan orang. Dalam orasinya, ulama tersebut memuji kebijakan Mursi ini.

Ah, teman. Ternyata banyak. Sangat banyak yang mesti kita benahi. 😦

Oh ya, aku hampir melupakan sesuatu. Ketika pertama kali melihat mereka, kepalaku hampir menabrak tiang-tiang besi di depanku saking terpesonanya melihat kumpulan ‘India Keling’ itu. Sehingga salah seorang mereka yang sedang memasang hijab mesjid itu berteriak mengingatkanku.

#Oleh-oleh dari pusat kota

Padang, 8 November 2012

Advertisements

2 thoughts on “Masjidku, masjidmu, dan Kaum Ekspatriat

  1. syafni

    assalammualaikum aida. Ida, kalau tidak salah nama masjidnya Nurul Islam. Mesjid yang ‘anggun’ dalam kesederhanaannya.
    Hm jika saja setiap muslim merasa memilki terhadap mesjid, khususnya masyarakat yang tinggal di sekitarnya Insya Allah masjid pasti terbenahi kebersihan dan kerapihannya.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s