di Tepi Kerumunan

Di tepian kerumunan tadi, seorang uda yang saya akan selalu menghindar dan kabur ketika bertemu dengan beliau, akhirnya mesti bertemu juga. Lengkap dengan istri beliau yang keibuan. Bukankah mereka orang-orang baik yang selalu saya lari dari mereka? Dan ‘uda’ kami yang dosen itu, dengan nada menghibur,”kerjakan dan temui terus pembimbingnya, insya Allah cepat selesai.”
Kami pernah satu bus dalam sebuah perjalanan panjang ke ibukota, satu setengah tahun yang lalu. Di sana, kami mengenal lebih dekat dengan istri beliau. Ada banyak hal yang kami dapat, kami tidak perlu mencari orang-orang baik jauh-jauh. Banyak orang baik yang mempedulikan kita. Mereka adalah orang terdekat yang kita tidak merasa dekat dengan mereka. Mereka dekat dengan kita, tapi kita selalu menghindari mereka. Mereka mempedulikan kita, bertanya ketika kita menghilang, tapi kita asing untuk sekedar curhat tentang beban-beban kita.
Dan uda tersebut, dan uni tersebut, adalah orang-orang baik tersebut. Maafkan kami.

Advertisements

3 thoughts on “di Tepi Kerumunan

  1. Idebenone

    Perhatikanlah, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak marah akibat perbuatan istrinya yang menyebabkan pecahnya piring. Nabi tidak mengatakan, “Lihatlah! makanan berhamburan!!, ayo kumpul makanan yang berhamburan ini!. ini adalah perbuatan mubadzir!” Akan tetapi ia mendiamkan hal tersebut dan membereskan bahkan dengan rendah hati nabi langsung mengumpulkan pecahan piring dan mengumpulkan makanan yang berhamburan, padahal di sampingnya ada seorang pembantu.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s