Perenungan

Apapun itu, rasa bersalah mengenalmu masih juga belum hilang dari jiwaku. Kita mungkin sedang mencari cara untuk melepaskan diri. Segala yang kita tanam mesti musnah agar jalan menunjunya menjadi lempang. Tapi ada ketakutan yang mendiami sisi hati yyang lain. Yang lebih mempengaruhi laku kita, dibanding secuil harap meraih ridhonya. Ketakutan akan wujud nyata yang sejatinya tak nyata.
Kita barangkali menyadari bahagia yang kerap hilang setelah muncul tiba-tiba. Atau setelah kita mema’rifatinya dengan segala pengorbanan jiwa penuh airmata. Dulu, kita masih sempat bercerita tentang kebenaran hakiki yang mestinya tak teringkari, tak terzolimi keinginan semata. Dulu, ah, waktu kita benar-benar tersita oleh hal-hal fana yang seharusnya kita hapus lenyap dari hari-hari kita.
Maka, kita dalam diam boleh bercerita lagi. Monolog, dan sepanjang apapun kita tak terpenjara lagi oleh waktu yang kosong oleh suara. Kita mungkin diam, tapi ada sesuatu dari kita yang tidak pernah diam. Meskipun jauh di lubuk hati, kita tetap ingin bercerita penuh suasana. Diam kita menundukkan sebuah semangat, tapi memunculkan semangat lain. Inilah yang kusebut sentuhan perenungan. Dan segalanya mengalir… ke tempat yang kita inginkan.

Padang, 10 Februari 2013

Advertisements

3 thoughts on “Perenungan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s