Menulis Puisi

Hanya dua alasan paling kuat mengapa aku suka menulis puisi
#pertama, ketika ingin bercerita satu hal dan tak punya banyak kata (kadang waktu sedang tidak bersahabat) maka, dengan begitu singkat kuceritakan sesuatu itu lewat puisi. 10 menit selesai. sehingga kadang aku menulis 2 puisi dalam satu malam. Menurutku, puisi adalah sebuah seni bercerita sesuatu yang panjang dengan cara yang singkat.
#alasan kedua kenapa aku suka menulis puisi adalah saat ingin mencurahkan sesuatu yang menyesak jiwa tapi tak mungkin diceritakan lewat sebuah tulisan, curhat2an, atau perkataan kepada orang-orang. Maka kuputuskan menulis puisi. aku pernah menulis disebuah buku “lewat puisi, kuceritakan sebuah rahasia kepadamu“. ya, ketika ingin menceritakan sebuah cerita sedikit rahasia atau tidak ingin dengan lugas menyampaikannya, aku memilih menceritakan lewat puisi. kubiarkan orang-orang yang ‘membaca’ yang tersirat. Karena manusia tempat mereka berahasia pada diri sendiri, rahasia yang banyak.
Begitulah teman, meski puisiku belum seberapa, tapi aku membuat folder-folder untuk puisiku di komputer. pertahun dan perbulan. sejak 2006 aku mulai menulis puisi di komputer. 2007 aku mulai menulis puisi via blog tanpa editan. 2008, 2009 aku mulai membawa puisiku ke diskusi karya. 2010, aku mulai mencari jalan agar tulisanku dibaca banyak orang, hingga tahun itu tercatat sebagai tahun pertama puisikuu terbit di koran lokal. 2011, aku mulai jarang menyimpan puisi di folder khusus. lebih banyak menulis puisi dengan cara instan di blog dan diari. 2012, puisi di folder cuma 2 buah. setelah ditelusuri, puisiku semakin berserakan di blog, diari, dan buku tulis. berserakan tidak tertata. tahun 2013, foldernya belum kubuat dan tentu saja belum ada file puisiku. tapi tetap dengan gaya tahun 2012. tetap nampang di blog dan diari.

aku ingin seperti Bapak Taufiq Ismail, yang mencoba memanusiakan manusia dengan puisinya
aku ingin seperti Bapak Sapardi Djoko Damono, yang memunculkan romantisme yang manusiawi dalam puisinya
seorang senior di FLP mengatakan puisiku mirip puisi Sapardi, padahal serius, saat itu aku mati-matian meniru gaya Taufiq Ismail.

Salam Sastra!

Rumah Panjang, 19 Maret 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s