Rendezvous

Saranmu agar aku mesti terus menulis terngiang terus di telingaku. Sejenak aku bernostalgia tentang dunia yang mempertemukan kita ini. Di hati ini sering benar larut dalam sebuah mimpi tentang rendezvous. Ya, rendezvous.

Aku mengenal kata ini pertama kali di sebuah buku pelajaran Bahasa Indonesia SMA sewaktu aku masih duduk di bangku SD. Aku senang mengingat kata-kata baru meski aku tidak pernah bertanya kepada siapapun tentang artinya, tapi aku masih ingat kata itu hingga beberapa tahun kemudia menemukan sebuah judul puisi berjudul “Rendezvous, sebuah pertemuan”, sampai di sini kusimpulkan pengertian rendezvous adalah pertemuan. Barusan aku ingat lagi dan langsung browsing di internet,  dan langsung ingin menulis sesuatu dengan judul rendezvous. Aku jadi ingat sang guru sastraku. Setiap menulis, memang aku selalu mengingatmu, mencoba merasakan jiwamu mengalir bersama jemariku. Barangkali guruku ini adalah guru yang akan seringkali kuingat, karena aku ingin benar menjadi seorang penulis.

Di jiwaku namamu memang benar-benar melekat erat. Setiap tekanan keyboard adalah semangatmu di sana yang tak pernah padam. Semangat. Ya, karena aku secara fisik tidak akan pernah bisa bersamamu. Jika benar aku bahagia dengan kenangan, maka mengenangmu adalah kebahagiaan itu. Jiwa saja bagiku cukuplah untuk bisa merasa memilikimu. Dan sepotong olok-olokan tak serius kita yang membuatku benar-benar merasa jadi diri sendiri.

Dan kata rendezvous itu selalu terngiang di telingaku, mengingat orang yang ingin sekali aku temui adalah engkau. Barangkali akan sedikit meruntuhkan idealismeku. Tapi bagiku niat yang tulus dan tidak berkehendak lain adalah alasan tepat untuk itu semua. Barangkali engkau dan aku sering merancangnya. Menyebutnya dalam tiap perbincangan kita. Bahkan perbincangan terakhir ketika aku masih di kotaku beberapa bulan yang lalu. Namun setiap masa ada perubahannya. Belum beberapa minggu sejak terakhir engkau mengirim pesan, aku dikejutkan oleh sebuah dinding yang berdiri kokoh antara kita. Tiba-tiba aku menjadi terhempas dalam lautan penyesalan, kebahagian, harapan, dan penderitaan.  Jika dia topan yang berpusar maka mungkin aku telah terhempas berulang kali di malam kabar itu datang. Biarkan aku menghela nafas sejenak, karena mendadak dadaku saat ini menjadi terasa sesak. Di balik sikap tegarku, aku diam-diam mengalirkan airmata. Bagaimana tidak, engkaulah orang yang paling dekat saat ini denganku. Bagiku malam itu seperti ada jurang keformilan yang tercipta antara kita. Meski berkali-kali engkau yakinkan, bahwa engkau tidak akan menjadikanku ‘adik tiri’ untuk segala urusan yang ingin kudiskusikan.

Namun kata rendezvous itu serasa selalu memanggil manggilku. Tak ingin kupungkiri, sekali saja dalam sejarah hidupku, biarkan aku bertemu denganmu, meski hanya melihatmu membacakan sajakmu di atas panggung. Bagiku itu sudah cukup, dan aku akan mengirimkan pesan “terimakasih sudah menjadikanku murid yang berbahagia dengan mengagumimu,” lalu aku pergi dari ruangan tempatmu membacakan puisi dan tersenyum diam-diam.

Advertisements

One thought on “Rendezvous

  1. sehunbee

    Pertama kali mendengar kata itu, aku sendiri langsung jatuh cinta pada maknanya…

    Imajinasi liarku untuk mengembangkan itu kedalam tulisan pun langsung berkembang begitu saja 😀

    woahhh aku jadi semakin enggak sabar ingin mengembangkan makna rendezvous itu kedalam sebuah cerita…!!!

    Aku senang bisa baca tulisan kk, aku jadi semakin terinspirasi…
    Terima kasih 🙂

    Namaku Nurul dan aku seorang penulis…
    salam kenal…^^

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s