rindu berujung doa

rinduku seperti rindu orang yang kebingungan.  Entah bersandar dimana jiwa berada dimana. Pandanhan gelap penuh gelisah. Jika ini kutujukan buat seseorang maka lebih baik dengarlah hatiku bicara padamu. Dalam dialog sunyi yang menyihir akal sehatku. Penatku tak berujung tidur. Lelahku menunggumu engkau lukai seperti sayatan yang menetes airmata darah. Luka dan luka. Kecewakan saja aku sesering yang kamu inginkan. Pertanyakan yg harusnya kamu abaikan. Lalu abaikan yang harusnya kamu pertanyakan. Menyesal kah aku? Menetes darah sia2. Ingin kuhukum engkau dengan doa karena menzalimiku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s