Memaknai kegagalan

Ketika jiwa ini kosong mengingat rahasia Allah memberikan takdirNya, kadangkala airmata turun begitu saja. Aku masih ingat nasehat seorang guru , tangis tak menyelesaikan masalah. Dan ketika aku menangis, aku bukan berarti tidak ingat pesan beliau. Aku hanya sedih saat kenyataan tidak sesuai dengan harapan.
Aku memang punya mimpi dan segudang cita-cita yang membuat aku berfikir bahwa semua itu akan membuat hidupku penuh kewibawaan, harga diri, dan apresiasi. Lalu dimanakah letak kepasrahan yang Allah sebut sebagai tawakkal di dalan diri manusia? Aku bahkan paham betul bahwa tawakkal itu adalah setelah berjuang sekuat jiwa raga hingga rasanya tak akan ada lagi tenaga untuk melakukannya. Setelah memikirkan dengan matang, ternyata diriku menyimpulkan, manusia kotak demikian aku menyebutnya, adalah manusia yang paling rugi sepanjang masa. Hidup begitu lama tapi tak luas cara berfikirnya. Aku tak ingin jadi manusia kotak. Katak dalam tempurung. Jika gagal, gagal saja. Kita sukses di kehidupan yang lain. Mencari peluang dan fokus menggarapnya.
Mungkin juga karena aku gagal di awal. Gagal memberikan karakter baik pada niatku. Yang pasti aku belum pantas menerimanya, makanya Allah undur atau ditukar dengan yang lain.
Inilah pelajaran yang kudapatkan hari ini. Inna ma’al ‘usri yusran, fa inna ma’al ‘usri yusran.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s