Aku ingin Seorang Teman

Eka Budianta

Aku ingin seorang teman
yang senyumnya bertahan
dalam gemuruh kota dan sunyi desa
Aku ingin seorang teman
yang tidak putus-asa di musim kemarau
dan tidak sombong di musim hujan

Aku ingin seorang teman
yang nafasnya tetap teratur
dalam keributan dan keheningan
Aku ingin seorang teman
yang bisa memisahkan urusan pribadi
dan kepentingan banyak orang.

Kalau boleh aku ingin memilih teman
yang tetap berpikir jernih
di dalam keruhnya zaman
yang sanggup mendengar
pujian maupun ejekan
yang tetap punya harapan
pada saat orang lain ketakutan
yang tetap bersih dan sehat
pada saat semua jadi jorok dan sakit-sakitan

Tetapi aku tahu semua teman bisa pergi
untuk sementara atau selamanya
Seorang teman bisa berkelit,
bisa jadi pikun atau pura-pura lupa
Sementara aku sendiri juga bisa mati
sebelum rumah persahabatan
selesai kubangun untuknya.

Karena itu aku ingin seorang teman
yang bersedia tinggal di hati-kecilku
dan memberiku ruang di dalam hatinya.

Advertisements

Memaknai kegagalan

Ketika jiwa ini kosong mengingat rahasia Allah memberikan takdirNya, kadangkala airmata turun begitu saja. Aku masih ingat nasehat seorang guru , tangis tak menyelesaikan masalah. Dan ketika aku menangis, aku bukan berarti tidak ingat pesan beliau. Aku hanya sedih saat kenyataan tidak sesuai dengan harapan.
Aku memang punya mimpi dan segudang cita-cita yang membuat aku berfikir bahwa semua itu akan membuat hidupku penuh kewibawaan, harga diri, dan apresiasi. Lalu dimanakah letak kepasrahan yang Allah sebut sebagai tawakkal di dalan diri manusia? Aku bahkan paham betul bahwa tawakkal itu adalah setelah berjuang sekuat jiwa raga hingga rasanya tak akan ada lagi tenaga untuk melakukannya. Setelah memikirkan dengan matang, ternyata diriku menyimpulkan, manusia kotak demikian aku menyebutnya, adalah manusia yang paling rugi sepanjang masa. Hidup begitu lama tapi tak luas cara berfikirnya. Aku tak ingin jadi manusia kotak. Katak dalam tempurung. Jika gagal, gagal saja. Kita sukses di kehidupan yang lain. Mencari peluang dan fokus menggarapnya.
Mungkin juga karena aku gagal di awal. Gagal memberikan karakter baik pada niatku. Yang pasti aku belum pantas menerimanya, makanya Allah undur atau ditukar dengan yang lain.
Inilah pelajaran yang kudapatkan hari ini. Inna ma’al ‘usri yusran, fa inna ma’al ‘usri yusran.